Thursday, June 17, 2021

Stop Diskriminasi dan Berikan Kesempatan Kerja Bagi Penderita Kusta

 

pic: www.radiopelitakasih.com

Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kalimat “penyakit kusta”?

Penyakit kutukan?

Penyakit turunan dan berbahaya?

Penyakit yang disebabkan darah kotor?

Penyakit yang biasa aja, sama dengan penyakit lainnya?

Yup, bener banget sih.

Masih banyak masyarakat awam yang beranggapan bahwa penyakit ini adalah penyakit yang penderita atau mantan penderitanya harus dihindari.

Padahal sebenarnya tidak demikian.

Berbicara mengenai kusta, Indonesia sendiri merupakan salah satu negara yang selalu mengalami peningkatan kasus penyakit kusta baru setiap tahunnya. Hal inilah yang menjadikan Indonesia berada di peringkat ketiga dunia setelah Brazil dan India sebagai negara dengan jumlah kasus kusta tertinggi.

pic: kementrian kesehatan

Meskipun sebenarnya Indonesia sudah mencapai eliminasi kasus kusta pada tahun 2000, tapi berdasarkan data yang ada di lapangan saat ini masih ada 15.000 - 17.000 kasus kusta baru di Indonesia.

Kusta biasanya ditandai dengan kelemahan atau mati rasa di sekitar tungkai dan kaki yang diikuti dengan timbulnya lesi atau bercak pada kulit. Kusta yang tidak diobati dengan baik dapat menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf tepi, anggota gerak, dan mata (WHO, 2019).

Kerusakan yang akhirnya menimbulkan cacat permanen inilah yang akhirnya memicu stigma negatif pada masyarakat.

Stigma negatif ini membuat para mantan OYPMK (Orang Yang Pernah Menderita Kusta) terjebak dalam lingkaran diskriminasi dan akhirnya menghambat mereka untuk bisa bersosialisasi dan bekerja di lingkungan masyarakat.

Bahkan tidak jarang banyak perusahaan atau tempat kerja yang dengan terang-terangan menolak memberi mereka pekerjaan. Sehingga menyebabkan para OYPMK ini hidup dalam kekurangan.

Lalu, apakah mereka masih berpotensi menularkan penyakit kusta?

Apakah memang mereka tidak mampu bekerja dengan baik?

Bagaimanakah cara membuka kesempatan kerja bagi mereka?

Nah, beruntung sekali Selasa, 15 Juni 2021 lalu aku mendapat kesempatan mengikuti acara Ruang Publik KBR bekerja sama dengan IIDN yang diadakan oleh KBR dan NLR Indonesia.



 
Acara yang dibawakan oleh Mas Rizal, penyiar KBR, dengan mengundang beberapa narsum ini ditayangkan di youtube KBR dan disiarkan di 100 jaringan KBR.

Talkshow ini mengundang Mas Angga Yanuar (Manajer Proyek Inklusi Disabilitas NLR Indonesia), Mbak Zukirah Ilmiana (owner PT. Anugrah Frozen Food), dan Mas Muhammad Arfa (OYPMK).

 NLR sendiri adalah sebuah yayasan nasional pemerhati kusta sejak tahun 1975 yang fokus pada pemberantasan kusta dan inklusi bagi orang dengan disabilitas termasuk yang disebabkan oleh kusta. NLR ingin ke depannya dunia bisa terbebas dari kusta dan semua orang Indonesia  terutama orang yang pernah mengalami kusta atau orang dengan disabilitas, dapat menikmati hak-hak mereka di tengah masyrarakat inklusif tanpa stigma dan diskriminasi. 

NLR juga gencar menggandeng dinas terkait terutama dinas kesehatan kota/kabupaten dan juga organisasi-organisasi lainnya dalam melaksanakan ide-ide mulianya. Selain program kerja inklusif katalis yang melibatkan OYPMK, NLR juga menggagas Desa Sahabat Kusta yang bertujuan untuk mendukung penerimaan masyarakat pada pasien kusta dan OYPMK.

 

Mantan Penderita Kusta dan Stigma yang Melekat Pada Mereka

 


Kusta atau juga dikenal dengan penyakit lepra telah dikenal sejak hampir 2000 tahun sebelum Masehi. Penyakit yang merupakan salah satu contoh Neglected Tropical Diseas (NTD) ini adalah penyakit infeksius yang disebabkan oleh bakteri “Mycobacterium leprae” yang menyerang jaringan kulit, saraf tepi, serta saluran pernapasan. Bakteri ini dapat menyebar melalui percikan ludah atau dahak yang keluar saat batuk atau bersin. Tapi untuk tingkat penularannya sendiri sebenarnya cukup rendah karena penularan bakteri kusta ini harus melalui kontak erat yang cukup lama dan intens.

pic: blogedukasi

Secara umum, kusta ini adalah penyakit kulit. Namun jika tidak segera dilakukan penanganan atau diobati, penyakit ini bisa menyebabkan diformitas yang akhirnya berujung pada disabilitas bagi penderitanya. Biasanya gejala awalnya bermula dari munculnya bercak merah atau putih pada kulit yang diikuti dengan mati rasa karena terjadinya kerusakan syaraf.

 


Indonesia sendiri sudah mencapai eliminasi terhadap penyakit kusta. Namun ternyata, khususnya 2 sampai 3 tahun belakangan ini, masih ada beberapa provinsi dengan kasus kusta tertinggi seperti Papua, NTT, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat.

“Kusta adalah penyakit kutukan” adalah salah satu stigma yang melekat erat pada penderita kusta atau lepra. Menurut Mas Angga Yanuar, Manajer Proyek Inklusi Disabilitas NLR Indonesia, stigma-stigma negatif semacam ini masih sangat sering ditemukan pada masyarakat umum.

Bahkan tidak jarang mereka melakukan perundungan secara verbal dan juga melakukan diskriminasi pada para penderita kusta.

Hal inilah yang membuat OYPMK (Orang Yang Pernah Menderita Kusta) akhirnya memiliki kesempatan yang sangat rendah untuk memperoleh pekerjaan.

 

Memberikan Kesempatan Kerja Untuk Para Penderita Kusta (OYPMK)

Lalu mungkinkah para penderita kusta (OYPMK) ini memiliki atau mendapatkan pekerjaan yang layak?

Dan mampukah mereka bekerja dengan baik dengan segala keadaan yang mereka miliki?

Berdasarkan Undang-Undang perlindungan kesempatan kerja bagi tenaga kerja penyandang disabilitas No. 13 Pasal 5 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, menyatakan bahwa, “Setiap tenaga kerja memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk mendapatkan pekerjaan”.

Bahkan ada peraturan pemerintah yang mengharuskan setiap perusahaan harus mempekerjakan setidaknya 1 % penyandang disabilitas di lingkup ASN dan 1% di lingkup perusahaan swasta.

Meski pada prakteknya di lapangan, diskriminasi terhadap para penyandang disabilitas ini masih banyak terjadi. Dan sampai saat ini belum ada implemntasi di lapangan dan juga sanksi yang diberikan jika ternyata perusahaan tidak memenuhi kuota yang diamanatkan terkait pada peraturan tersebut.

Banyak perusahaan yang melakukan diskriminasi sampai menolak mentah-mentah kehadiran mereka. Selain itu, fasilitas-fasilitas atau sarana prasarana kerja yang ada di perusahaan pun biasanya sangat tidak ramah penyandang disabilitas.

Alasan-alasan itu yang membuat para penyandang disabilitas, salah satunya OYPMK ini memilih mundur dan tidak berani masuk ke dalam pasar kerja karena minder dengan keadaan fisik mereka dan takut mengalami verbal bullying atau penolakan dari perusahaan yang dituju.


Hal inilah yang mengetuk hati Mbak Zukirah Ilmiana, owner PT. Anugerah Frozen Food di Bulukumba, Sulawesi Selatan. PT. Anugrah Frozen Food adalah salah satu perusahaan yang menerima peserta magang dari kaum disabilitas dalam program kerja inklusif katalis yang diinisiasi oleh NLR Indonesia bersama dengan organisasi di Sulawesi Selatan.

Beliau adalah salah satu orang yang sudah membuktikan kinerja OYPMK dengan membuka program magang di perusahaannya dan menurut pengalamannya mereka ini bisa bekerja dengan baik.

Mbak Zukirah adalah salah satu owner perusahaan yang bersimpati dengan penolakan-penolakan yang dialami mantan penderita kusta. Dan dengan alasan kemanusiaan, beliau bersedia menerima pemagang OYPMK di perusahaannya.

“Semua manusia itu sama. Tidak ada yang berbeda,” tegas Mbak Zukirah.

 Apalagi ternyata peserta magang yang ikut dengannya memiliki skill yang justru jauh lebih baik dibanding karyawannya yang lain.

Ia pun mengaku puas dengan kinerja karyawan magangnya yang juga lebih cepat tanggap dan mengerti ketika dijelaskan atau diajarkan hal baru.

Karyawan-karyawan di perusahaannya pun bisa menerima keberadaan karyawan magang dan memperlakukannya dengan baik.

Tantangan justru datang dari para pelanggan yang merasa takut dan meragukan kinerjanya. Tapi Mbak Zukirah bisa menghalau ketakutan mereka dengan penjelasan yang baik.

Bahkan beliau mengajak masyarakat untuk menghapus stigma negatif yang saat ini melahirkan ketidak adilan dan kesenjangan pada penderita disabilitas.

Karena menurut Mas Muhammad Arfa, salah satu nara sumber yang saat ini juga menjadi peserta magang di kantor Satpol PP di Sulawesi Selatan sebagai Staf Administrasi dan juga OYPMK, stigma ini cukup menyiksa dan menyakiti perasaan bagi para penyandang disabilitas khususnya dirinya sendiri. Bahkan dengan terbata-bata karena menahan tangis, Mas Arfa bercerita bagaimana kejamnya masyarakat memandang dan mengejek dirinya ketika dulu penyakit kusta tengah menyerang dirinya.


Alih-alih perhatian dan dukungan, kalimat-kalimat menyakitkan justru sering terlontar dari kawan-kawannya. Beruntunglah Mas Arfa tak patah semangat untuk berjuang.

Mas Arfa yang kini sudah sembuh juga mengajak para penderita kusta untuk tetap semangat berobat dan percaya diri untuk bisa sembuh. Tidak lupa Mas Arfa juga mengingatkan orang-orang sekitar dan keluarga para penderita kusta untuk mendukung dan memotivasi agar mereka tetap percaya diri. Bukan dijauhi karena pada dasarnya semua manusia itu sempurna dan memiliki kelebihan masing-masing.

Sebagai penutup, Mas Angga juga mengajak orang-orang baik pribadi, masyarakat, kelompok profesi, dan institusi untuk berhenti melakukan diskriminasi dan verbal bullying terutama pada para penyandang disabilitas.

Selain itu, menurutnya ada beberapa peran yang bisa dilakukan oleh masyarakat untuk membantu teman-teman disabilitas atau OYPMK, yaitu:

  • Menjaga konsep bahwa semua ciptaan Tuhan adalah sempurna dan memiliki derajat yang sama.
  • Membekali diri dengan pengetahuan atau membaca informasi terkait dengan kondisi tertentu yang dialami seseorang.
  • Melakukan komunikasi publik untuk memunculkan kebijakan-kebijakan yang mendukung tentang pengurangan stigma serta peningkatan percaya diri penyandang disabilitas dan Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK).

Dengan demikian diharapkan diskriminasi terhadap penyandang disabilitas pun akan berhenti dan mereka akan mendapatkan kesempatan kerja yang sama dengan orang normal lainnya.

Nah, semoga aku, kita, dan kalian kelak bisa memiliki usaha yang juga bisa menjadi lapangan pekerjaan baru bagi para OYPMK ini ya.

Yu, mari bahu membahu dan bekerja sama untuk menciptakan Indonesia yang ramah disabilitas.


 

Thursday, April 22, 2021

Review Scarlett Whitening Brightly Ever After Serum dan Whitening Facial Wash

 

Scarlett Whitening Brightly Ever After Serum & Whitening Facial Wash

Mencari produk perawatan wajah yang cocok itu beneran kaya menemukan jodoh. Susah-susah gampang! Nggak bisa sembarangan dan asal aja karena bakal berdampak ke kulit wajah kita.

Ada banyak hal yang harus diperhatikan mulai dari apakah sudah terdaftar BPOM, apakah kandungan bahannya aman, apakah bisa menyebabkan ketergantungan, dan apakah affordable untuk dompet kita. Ini penting karena nanti hubungannya dengan kesehatan jiwa dan dana, haha.

Nah, hal ini lah yang membuat aku juga selalu berpikir panjang sebelum memutuskan mengaplikasikan produk face care ke wajah.

Meskipun dikaruniai jenis kulit wajah yang termasuk bakoh aka bandel, kesalahan dalam merawat dan memilih jenis perawatan wajah pasti bakal kelihatan banget di wajahku, kan.

Yup, aku tu termasuk beruntung memiliki kulit wajah yang cenderung normal dan hampir selalu cocok mengenakan berbagai produk perawatan wajah atau face care.

Hanya saja karena dulu tidak terbiasa mengenakan sun screen dan serum, ada beberapa masalah yang muncul di kulit wajah seperti flek hitam, komedo, dan pori-pori yang cukup besar.

Stress kan ya?

Lucky me, kemarin banyak baca review teman-teman soal produk perawatan wajah dari Scarlett Whitening.

Jadi setelah sukses dengan body carenya yang dicintai banyak beauty enthusiast, Scarlett Whitening ini sekarang mengeluarkan beberapa varian produk perawatan wajah atau serum. Salah satunya adalah serum pencerah wajah dan acne series.

Beneran, kayaknya produk-produknya Scarlett tu hype banget karena hampir setiap hari deh lihat foto dan reviewnya melintas di timeline media sosialku.

Penasaran dong…

Apalagi sampai detik ini aku masih pakai produk body care terutama lotionnya yang juara banget itu. So far puas deh pakai produknya Scarlett Whitening nih. Bahkan sampai aku review juga di sini ya.

Akhirnya aku memutuskan untuk mencoba BRIGHTLY EVER AFTER SERUM dan WHITENING FACIAL WASH-nya deh daripada penasaran.

Trus gimana hasilnya?

Memuaskan nggak?

Here we go….

 

Scarlett Whitening Brightly Ever After Serum
 

Kemasan 

Scarlett Whitening Brightly Ever After Serum

Cantik!!!

Itu kesan pertama saya ketika melihat kemasan Brightly Ever After Serum dari Scarlett Whitening ini. Didominasi warna putih dengan tambahan warna pink dan tampilan bunga lavender membuat kemasan serum dari Scarlett ini bikin langsung jatuh cinta.

Di kemasan ini terdapat beberapa informasi umum seperti BPOM, stiker hologram, ukuran kemasan botol, deskripsi produk, ingredients, cara penggunaan, waktu penggunaan, petunjuk penyimpanan, petunjuk expired date produk, barcode, sampai logo cruelty free, dan period after opening.



Untuk botol serumnya sendiri berbahan frosted glass yang kokoh berwarna pink dengan tutup botol dengan aplikator berbentuk pipet untuk memudahkan pengaplikasian serum ke wajah seperti wadah serum pada umumnya.

Dengan berat bersih 15ml, botol serum ini simpel dan praktis sekali jika dibawa bepergian ke luar kota kok. Aku kemarin juga sempat bawa serum ini mudik dan super aman saja di perjalanan.

 

Kandungan dan Manfaat



Dari banyak kandungan yang dicantumkan di kemasan box luar, ada beberapa kandungan yang menjadi unggulan dari Brightly Ever After Serum ini yaitu:

- Lavender Water

Nah seperti yang tadi ku singgung di atas, di kemasan luar serum ini disertakan gambar lavender yang cantik banget. Ternyata itu karena memang Brightly Ever After Serum ini mengandung air lavender yang memiliki banyak manfaat seperti melawan bakteri penyebab jerawat, mengatasi peradangan kulit, detoksifikasi kulit untuk meningkatkan sirkulasi darah dan menghaluskan kulit.

- Phyto Whitening

Bermanfaat untuk mencerahkan wajah dalam waktu singkat. Phyto Whitening ini sangat aman bagi kulit dan tidak menyebabkan iritasi.

- Niacinamide

Berfungsi untuk melembabkan kulit, mengatasi jerawat, menyamarkan noda hitam, dan mencegah kanker kulit melanoma.

- Glutathione

Berfungsi untuk meningkatkan kelembaban dan elastisitas kulit, memberikan perlindungan dari radikal bebas, membuat kulit lebih sehat dan terlihat glowing.

- Vitamin C

Berfungsi untuk membantu menghilangkan flek dan bekas jerawat, mencegah dan melindungi kerusakan sel dan jaringan kulit akibat paparan radikal bebas yang menyebabkan penuaan dini pada kulit.

 

Secara garis besar, kombinasi kandungan-kandungan unggulan di atas diklaim mampu membantu mencerahkan kulit, memudarkan noda di wajah, menutrisi dan melembabkan kulit, bekerja sebagai anti oxidant dan anti pollution, dan what I love the most is membantu mengecilkan pori-pori dna menghaluskan kerutan dan garis di kulit.

 

Kesan Setelah Pemakaian

Oh iya, cara pakai serum ini tuh gampang banget loh. Cukup teteskan 2-3 tetes serum lalu usap dan pijat dengan perlahan , diamkan sampai serum meresap sempurna ke kulit wajah.



Tekstur dari serum ini cukup cair dan ringan tapi sangat cepat meresap dan nggak meninggalkan kesan oily atau basah berlebih. Jadi antara aplikasi serum dengan krim wajah nggak terlalu memakan waktu.

Ini yang aku suka. Meski awalnya ada sensasi kencang tapi setelah itu super ringan dan kering. Jadi kaya beneran meresap sempurna ke kulit wajah.

Soalnya beberapa serum tu agak lumayan lama meresapnya bahkan kadang sampai harus membutuhkan bantuan kipas angin saat pengaplikasian ke wajah. Bisa lama dan kaya nggak kering-kering aja soalnya.

Hal lain yang aku suka dari Brightly Ever After Serum ini adalah kandungannya yang NON ALCOHOL dan FRAGRANCE FREE. Jadi memang nggak wangi (lebih mirip ke bau belerang) dan nggak menimbulkan iritasi/perih di kulit wajah. Tapi setelah meresap, sama sekali nggak tercium bau apapun kok.

Setelah beberapa minggu pemakaian bersamaan dengan Scarlett Whitening Facial Wash, aku cuma bisa bilang, I LOVE IT!!!

Kulit wajah beneran terlihat lebih cerah, halus, dan kenyal. Quite well hydrated so far. Pori-pori dan flek hitam pun agak berkurang. Meski untuk flek hitam belum terlalu terlihat signifikan.

Ya soalnya kondisi paska terkena covid memang bikin badan jadi mudah lelah dan kadang suka malas merawat wajah apalagi ketika mau tidur. Jadilah suka lupa pakai serum sebelum tidur.

Nah, ini kalau rajin atau mungkin setelah pemakaian lebih dari 1 bulan semoga aja lebih terlihat maksimal hasilnya.

 

Scarlett Whitening Facial Wash

Scarlett Whitening Facial Wash
Kemasan

Scarlett Whitening Facial Wash ini memiliki kemasan dengan dominan warna ungu muda dan tambahan ornamen rose petal seperti kandungan di dalamnya.

Di kemasanlluar dari facial wash ini juga terdapat beberapa informasi umum seperti manfaat produk, deskripsi produk, ingredients, cara penggunaan, keterangan BPOM, berat produk, dan keterangan SLS FREE.


Untuk kemasan botolnya sendiri menggunakan botol plastik dengan tutup flip top yang juga aman meski dibawa bepergian. Botolnya yang langsing dengan berat 100 ml membuat ini jadi salah satu kemasan facial wash kesukaan saya, haha.

Facial wash ini berwarna bening, dengan tekstur gel, dan terdapat beads berwarna merah dan rose petal yang membuatnya tampilan keseluruhannya jadi makin cantik. Rose petal atau kelopak mawarnya tu beneran asli dan bisa digosokkan ke wajah loh. Seru banget!

  

Kandungan dan Manfaat



Scarlett Facial Wash ini diklaim SLS Free, yang juga tertera di kemasan box luarnya.

FYI, SLS ini adalah singkatan dari Sodium Lauryl Sulfate. SLS sendiri biasanya adalah zat kimia penghasil busa yang biasa terdapat di beberapa produk perawatan seperti shower gel, sampo, pasta gigi, sampai facial wash.

Zat kimia SLS ini dikabarkan dapat menimbulkan iritasi pada kulit dan mata terutama pada kulit yang sensitif.

Jadi jangan heran ketika menggunakan facial wash ini tanpa ada busa sama sekali ya.

Tapi saya sih justru lebih suka karena konon memang katanya produk perawatan yang baik itu adalah yang minim busa.

Lalu, ada kandungan apa yang jadi andalan di Scarlett Whitening Facial Wash ini?

Nah ini dia:

- Glutathione, mampu meningkatkan kelembapan dan elastisitas kulit, memberikan perlindungan dari radikal bebas, serta mencerahkan kulit. Oh iya, kandungan ini juga terkenal digunakan dalam produk perawatan whitening dari Korea loh.

- Vitamin E, mampu melembapkan kulit, membantu mengatasi peradangan, dan menenangkan kulit.

- Rose Petals, mampu menyegarkan kulit wajah.

- Aloe Vera, mampu menenangkan kulit dan meredakan peradangan kulit, serta melembapkan dan menghaluskan kulit wajah.

Secara garis besar, Scarlett Facial Wash ini memiliki manfaat untuk mencerahkan wajah dalam seketika, menutrisi kulit wajah, mengontrol kadar minyak berlebih, mengecilkan pori-pori, membuat kulit wajah lebih kencang, dan membantu menghilangkan noda jerawat.

Scarlett Whitening Facial Wash

Kesan Setelah Pemakaian

One of my favorite facial wash!

Dengan teksturnya yang gel, facial wash ini cukup irit pemakaian. Cukup dengan 2 atau tiga tetes, sudah bisa membersihkan wajah dengan sempurna. Irit banget kan, haha.

Karena selama sebulan pemakaian, itu baru berkurang sedikit banget loh isi facial washnya. Gimana nggak suka coba.

Dengan wangi segar seperti air mawar, facial wash ini menimbulkan kesan akhir yang fresh dan nggak kaku sama sekali.

Kayaknya karena SLS Free, Scarlett Whitening Facial Wash ini memang tidak seperti facial wash lain yang biasanya justru menimbulkan efek super kencang atau malah kaku setelah pemakaian.

Oh iya, untuk hasil maksimal, gunakan facial wash ini dua kali sehari ya. Terutama sih malam sebelum tidur dan sebelum kita mengaplikasikan serum atau krim malam dari Scarlett Whitening.

 

 

Kesimpulan Setelah Menggunakan Scarlett Whitening Brightly Ever After Serum dan Whitening Facial Wash

 

Setelah kurang lebih 3 minggu pemakaian, aku sih cukup suka ya sama hasilnya di wajahku.

 

Kanan: Sebelum, Kiri: Sesudah memakai Scarlett Brightly Ever After Serum & Whitening Facial Wash

Kombinasi pemakaian kedua produk ini beneran bisa membuat kulit lebih cerah, sedikit mengecilkan pori-pori, dan sedikit menyamarkan flek hitam yang masih jadi PR banget buat wajahku.

Yang jelas bakal repurchase produk ini karena berharap pemakaian secara rutin bakal kasih efek yang maksimal terutama sih untuk flek hitam di wajah ya.

Untuk garis besar kedua produk ini, aku kasih kesimpulan di bawah ini ya.

- Serumnya mudah meresap dengan tekstur yang cukup cair.

- Tidak menimbulkan kesan oily di wajah setelah pemakaian sehingga bisa cukup cepat untuk ditambahkan rangkaian perawatan atau krim wajah selanjutnya.

- Cruelty Free yang artinya tidak membahayakan, menyakiti, atau membunuh hewan dalam penggunaan dan pengujian bahan-bahannya.

- Sudah terdaftar BPOM

- Diklaim aman untuk bumil dan busui

- Facial washnya cukup irit, harum, dan tidak menimbulkan kesan kaku setelah pemakaian.

- Sudah lumayan terlihat hasilnya meski selama kurang lebih 3 minggu pemakaian belum maksimal sehari dua kali.

- Wajah terasa lebih kenyal dan cerah, lumayan mengecilkan pori-pori, dan menyamarkan flek hitam meski belum terlalu signifikan.

Itu dia beberapa kesimpulan kenapa aku suka produk ini dan mau ngerekomendasiin serum dari Scarlett Whitening ini ke kalian.

Yang jelas sih tipe kulit wajah dan kekonsistesian dalam mengaplikasikan face care juga berpengaruh ya. Dan kondisi kulit wajah, pola hidup, sampai pola makan juga memberikan hasil akhir yang berbeda di setiap orang ya. Karena kulitku cenderung normal dan aku juga lebih banyak konsumsi real food, ini sangat membantu proses serumnya bekerja di wajahku.

But this is my honest review based on my face and my skin type.

Rekomen lah menurutku.

 

Where to Buy it?

Tahu nggak sih, saat aku upload soal bocoran review rangkaian Scarlett Brightly Ever After Serum dan Whitening Facial Wash ini di IG story dan Whatsapp Story, langsung banyak banget teman yang komentar.

“Ku tunggu reviewnya ya”, “Beneran se-oke itu, mbak?”, “Aku penasaran. Mau coba juga tapi belum yakin. Udah masuk di keranjang belanjaan Shopee padahal, mbak”.

Tuh kan, ternyata beneran se-hype itu ya Scarlett Whitening ini.

Nah, buat kalian yang pengen cobain juga produk serum terbaru dari Sacrlett Whitening ini bisa membelinya melalui whatsapp di 087700163000, line @scarlett_whitening, DM instagram @scarlett_whitening, atau bisa juga melalui Shopee di @scarlett_whitening. Bisa pilih salah satu yaaa.

Untuk harga serumnya juga affordable banget. Cuma 75.000 rupiah ajaa.

Mo nanges, haha.

Selama ini kalau ada serum yang oke punya itu harganya kan ratusan ribu banget. Ini cuma 75 ribu doang loh…

Worth to buy lah pokoknya produk-produk dari Scarlett Whitening itu.

Selamat mencobaa yaaa. 

Jangan lupa ceritain juga ya kesan setelah rutin memakai Scarlett Whitening Brightly Ever After Serum dan Whitening Facial Washnya.

 

 

Wednesday, March 24, 2021

Yuk Sikat Gigi Sekarang! Untuk Indonesia Lebih Sehat



Apa satu hal yang rasanya sering kali malas kita lakukan?

Saya, sikat gigi sebelum tidur.

It needs a big effort. Beneran harus diniatkan sepenuh hati . Apalagi jika pulang malam setelah kullineran bersama teman dan badan sudah sangat mengantuk. Better to sleep than brushing my teeth.

Padahal saya pernah memiliki pengalaman buruk dengan sakit gigi ketika kecil dan remaja. Gigi saya berlubang cukup parah. Sakitnya? Tentu saja luar biasa.

Gigi yang akhirnya saya relakan untuk dicabut karena kadang sakitnya benar-benar tidak tertahankan. Belum lagi timbulnya karang gigi yang membuat saya tidak PD selama beberapa waktu.

Lantas kenapa saat itu tidak dibawa ke dokter gigi?

Dokter gigi adalah hal yang tidak saya kenal ketika kecil. Orangtua saya tidak pernah membawa saya ke dokter gigi. Jadilah saya mulai mengenal dokter gigi ketika lulus SMA.

Setelah itu saya mulai terbiasa meski tidak bisa dibilang rutin ke dokter gigi. Saya pun mulai mengenal apa itu scaling dan menambal gigi sebelum terjadi kerusakan gigi yang lebih parah.

Saat ini pun saya juga berusaha membiasakan anak dan suami untuk merawat gigi. Bahkan di masa pandemi ini saya sempat mencabut gigi susu anak dan juga melakukan pembersihan karang gigi suami di dokter gigi.

So far, mereka oke dan nyaman. Hanya saja pembiasaan menyikat gigi sebelum tidur ini yang masih PR besar bagi saya dan keluarga.

Lalu kenapa sih kok saya niat sekali memperhatikan kesehatan gigi dan mulut ini?

Selain rasa sakit yang tidak tertahankan ketika kumat, penampilan yang kurang oke, dan bisa menimbulkan bau mulut, gigi yang berlubang dan tidak dirawat dengan baik justru akan mendatangkan banyak penyakit berbahaya yang dampaknya juga fatal.


Hal itulah yang kemarin banyak dibahas dalam Webinar Hari Kesehatan Mulut dan Gigi bersama Pepsodent yang saya ikuti.

 

Webinar Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Bersama Pepsodent

Seperti yang kita ketahui bersama, pandemi yang sudah lebih dari setahun menerpa dunia ini membawa beberapa dampak bagi manusia. Salah satu dampak positif yang terjadi adalah meningkatnya kesadaran masyarakat untuk lebih menjaga kesehatan baik fisik maupun mental.

Tapi sayang, kesehatan ini belum termasuk pada kesehatan gigi dan mulut. Bahkan ada fakta mengejutkan dari survei global Pepsodent di mana 30% dari penduduk Indonesia mengakui pernah melewati satu hari penuh tanpa menyikat gigi.

Karena itulah, Unilever melalui brand Pepsodent sebagai official parter FDI World Dental Federation bersama Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) memperingati “Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Sedunia 2021” melalui gerakan “Yuk, #SikatGigiSekarang!” dan menyebar luaskan kampanye ini salah satunya melalui webinar Hari Kesehatan Gigi dan Mulut Bersama Pepsodent.


Sejumlah program eduaksi mengenai bagaimana merawat gigi dan mulut akan dilaksanakan dengan melibatkan masyrakat, dokter gigi, dan mahasiswa kedokteran gigi. Pepsodent juga ingin mengajak jutaan keluarga di Indonesia untuk melakukan sikat gigi bersama dengan konsep seu dan menyenangkan.

Kampanye ini bertujuan untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya menerapkan kebiasaan menyikat gigi dua kali sehari di tengah keluarga di waktu yang tepat. Aksi sederhana yang diharapkan mampu membawa dampak bagi kesehatan gigi dan mulut yang pada akhirnya membawa dampak baik bagi tubuh terutama di masa pandemi.

Saya dan beberapa teman blogger dan media beruntung sekali bisa mengikuti webinar yang diselenggarakan pada hari Jumat,19 Maret 2021.

Ada banyak sekali narasumber dan ilmu yang membuka mata dan pikiran kami tentang betapa pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut, tidak takut pergi ke dokter gigi meski di masa pandemi, sampai kebiasaan menyikat gigi di waktu yang benar.

Acara ini dibuka dengan beberapa Key note speech yang disampaikan oleh:

  • Ibu Ira Novianti - Presiden Direktur Unilever Indonesia
  • Dr. Gerhard Seebergers - Presiden FDI World Dental Federation
  • drg. Oscar Primadi, MPH - Sekretaris Jendral Kementrian Kesehatan Republik Indonesia

Sedangkan untuk sesi talkshow, webinar ini menghadirkan beberapa pembicara seperti:

  • drg. Ratu Mirah Afifah - Head of Sustainable Living Beauty and Personality and Hine Care Unilever Indonesia Foundation.
  • Dr. Drg. R. M. Sri Hananto Seno, Sp.BM - Ketua Pengurus Besar PDGI
  • Duma Riris - Selebritis dan Ibu dari dua orang anak

Acara dibuka oleh Ibu Ira Novianti yang banyak bercerita tentang Unilever dan komitmennya untuk memberikan manfaat dan dampak positif bagi masyarakat dan lingkungan.



Salah satu komitmen ini diwujudkan Pepsodent dalam inovasi produk. Seperti yang sudah kita ketahui bersama, saat ini product Unilever dalam hal ini khususnya Pepsodent semakin berinovasi demi bisa memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia dari semua lapisan.

Sebagai bentuk komitmen ini, Unilever juga telah menyalurkan bantuan untuk mengatasi pandemi seperti menyumbangkan puluhan ribu alat PCR, memberikan bantuan kepada para nakes. Selain itu, Unilever juga membantu perekonomian dengan memberikan dukungan financial kepada 147.000 UMKM dalam lingkungan Pepsodent.

Menurut Ibu Ira, Pepsodent dan Unilever percaya bahwa setiap senyuman begitu berarti. Karena itulah Unilever berkomitmen untuk melindungi senyuman Indonesia dan berharap masyarakat Indonesia mau membangun kebiasaan baik menjaga gigi dan mulut sejak dini dan di waktu yang tepat.

Dr. Gerhard Seebegers, selaku Presiden FDI World Dental Federation (mitra global Unilever Oral Care) sangat mengapresiasi langkah masif yang dilakukan oleh Unilever dan Pepsodent ini.


Unilever Oral Care bersama dengan FDI World Dental Federation telah bekerja sama mempromosikan kebiasaan perawatan kesehatan gigi dan mulut selama kurang lebih 16 tahun. Kebiasaan yang mampu membuat perubahan positif pada 140 juta anak-anak serta masyarakat di seluruh dunia.

Di momen ini juga, Dr. Gerhard mengajak segenap masyarakat Indonesia untuk menyikat gigi sehari dua kali dengan menggunakan pasta gigi berflouride dan menjadikan kebiasaan ini sebagai rutinitas sehari-hari. Bahkan beliau memberikan challenge kepada keluarga Indonesia untuk melakukan kebiasaan baik yaitu menyikat gigi setelah sarapan dan sebelum tidur. Karena dengan peduli pada mulut yang sehat, otomatis kita juga menjaga kesehatan tubuh kita di hari esok dan masa yang akan datang.

Sependapat dengan apa yang disampaikan Dr. Gerhard, drg. Oscar Primadi, MPH selaku Sekretaris Jendral Kementrian Kesehatan Republik Indonesia menyatakan bahwa kesehatan gigi dan mulut adalah bagian integral dari kesehatan tubuh secara keseluruhan. Hal ini terdapat dalam Peraturan Mentri Kesehatan Tahun 2015. Sayangnya fakta ini belum dipahami oleh sebagian masyarakat. Hal ini dibuktikan dengan hasil survei yang dilakukan pada tahun 2018, yang menunjukkan rendahnya prilaku menyikat gigi di waktu yang tepat.


Seperti yang lazim kita lakukan, kita biasanya menyikat gigi pada pagi dan sore hari ketika mandi. Padahal waktu yang tepat untuk menyikat gigi adalah ketika setelah sarapan dan sebelum tidur. Hal ini tentu saja demi meminimalisir tertinggalnya sisa-sisa makanan yang berpotensi merusak gigi kita di kemudian hari.

drg. Oscar berharap Indonesia semakin peduli dengan kesehatan gigi dan mulut, apalagi rongga mulut adalah pintu gerbang dari banyaknya penyakit. Karena hidup bersih dan sehat adalah hal yang tidak bisa ditawar-tawar.

Masyarakat pun diharapkan mampu memanfaatkan basis teknologi untuk pelayanan terutama layanan kesehatan lebih optimal, meski tidak keluar rrumah

 

Pentingnya Kesehatan Gigi dan Mulut Serta Harapan Indonesia Bebas Karies 2030

Sesi selanjutnya adalah sesi talkshow bersama drg. Ratu Mirah, Dr. drg. R.M. Sri Hananto Seno, dan DUma Riris. Sesi yang memberikan banyak sekali pandangan baru pada saya tentang pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut secara optimal.

Sesi talkshow dibuka oleh drg. Ratu Mirah. Beliau menegaskan bahwa Unilever percaya setiap senyuman begitu berarti. Karena itulah Unilever selalu mengambil peran mendukung pemerintah melalui program kesehatan gigi dan mulut yang berkesinambungan.


Salah satu peran itu diwujudkan dalam bentuk kerja sama Pepsodent selaku official partner FDI World Dental Federation dengan PDGI.


Selain itu, saat ini Unilever dan PDGI sedang mencanangkan program Indonesia Bebas Karies 2030. Beberapa bentuk langkah nyata yang telah dilakukan Unilever untuk menyukseskan program ini adalah dengan memberi edukasi serta layanan pemeriksaan dan perawatan gigi gratis yang telah menjangkau 22 juta anak di Indonesia. Unilever dan PDGI berharap ini bisa menjadi salah satu edukasi agar anak-anak Indonesia mengenal pentingnya merawat gigi dengan baik dan benar.

Meskipun demikian, salah satu kekhawatiran drg. Mirah adalah banyaknya orang yang mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut selama pandemi ini. Hal ini diketahui dari Survey Global Pepsodent yang dilakukan pada tahun 2020.


Survey ini menunjukkan 30% orang dewasa mengaku pernah melewati 1 hari penuh tanpa menyikat gigi dan 25% dari responden berangkat kerja atau melakukan zoom tanpa menyikat gigi. Sementara 13% responden mengaku hanya 1 kali menyikat gigi dalam sehari.

Hal inilah yang memicu semakin tingginya tingkat masalah kesehatan gigi dan mulut selama pandemi. Apalagi orang lebih aware untuk memperhatikan kesehatan fisik dan mental dibandingan kesehatan gigi dan mulut yang sama sekali tidak menjadi prioritas. 

drg. Mirah menyatakan, survei ini juga memperlihatkan bahwa 73% orang mengalami kesehatan gigi dan mulut seperti mengalami keluhan nyeri pada gigi, gusi, atau mulut; mengalami kemunculan karies baru pada giginya, mulut kering, bau mulut, sampai gusi dan gigi berdarah saat menyikat gigi.

Kondisi ini diperburuk dengan tingginya risiko penularan virus Corona. Pandemi terutama di awal kemunculannya memang banyak membuat dokter gigi menghentikan praktek untuk sementara.

Rentannya penularan melalui droplet membuat para dokter gigi hanya melayani keluhan yang memang benar-benar butuh penanganan serius.

Karena itu pulalah masyarakat pun menjadi khawatir dan akhirnya enggan memeriksakan giginya meski sedang bermasalah.

Bahkan sebanyak 59 persen orang mengaku menghindari pergi ke dokter gigi meski giginya bermasalah dan 67% orang mengaku menghindari pergi ke dokter gigi di masa pandemi. Hal ini pula yang menjadi kekhawatiran PDGI. Karena tentu saja dengan semakin tingginya tingkat permasalahan kesehatan gigi dan mulut, maka banyak penyakit berat bahkan virus Corona pun lebih mudah menginfeksi organ vital manusia.

Hal ini disampaikan oleh Dr. drg. R. M. Sri Hananto Seno, Sp.BM (K). MM selaku Ketua Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI).


Banyak faktor yang membuat masalah gigi dan mulut meningkat ketika pandemi covid ini melanda dunia. Selain banyak dokter gigi yang tidak praktek, biaya juga menjadi alasan banyak orang malas memeriksakan giginya. Banyak orang yang beranggapan bahwa gigi bukanlah bagian tubuh yang vital dan perlu dirawat dengan baik. Padahal banyak masalah yang bisa ditimbulkan di kemudian hari.

Masalah pada kesehatan mulut dan gigi yang tidak ditangani dengan baik bisa menimbulkan masalah besar seperti karies, gingivitis, abses, stomatitis, dll. Hal inilah yang justru dianggap bisa semakin membahayakan karena droplet dapat dengan mudah masuk melalui masalah pada gigi menuju organ vital kita seperti jantung, otak, dll.

Karena itulah tahun ini, di saat pandemi masih menjadi ketakutan banyak orang dan tuntutan untuk meningkatkan dan menjaga daya tahan tubuh, Pepsodent sengaja mengetengahkan urgensi perawatan gigi dan mulut guna melindungi kesehatan keluarga Indonesia kini dan nanti.

 

Merawat Gigi dari Rumah Untuk Indonesia Lebih Sehat

Pentingnya merawat kesehatan mulut dan menyikat gigi dengan baik dan benar memang masih menjadi PR bersama. Terutama jika di rumah tidak ada pembiasaan disiplin merawat gigi.

Menurut drg. Mirah, secara global anak-anak 7 kali melewatkan waktu menyikat gigi ketika orang tua mereka melewatkannya. Sedangkan di Indonesia, hal ini berlaku dua kali lipat. Ketika orang tua tidak menyikat gigi, ada 74% kemungkinan anak akan melewatkan menyikat gigi.


Belum lagi banyak orang tua yang membebaskan anak mengonsumsi makanan manis sebelum tidur dan sebagian di antaranya membebaskan anak untuk tidak menyikat gigi sebelum tidur. Entah karena menganggap anak terlalu lelah, sudah mengantuk, atau karena kasihan.

Menurut drg. Seno, rendahnya tingkat kedisiplinan dalam menyikat gigi inilah yang membuat tingkat kerusakan gigi pada anak cukup tinggi. Karena itulah beliau sangat menghimbau para orang tua untuk selalu mengingatkan anak-anaknya untuk menyikat gigi di waktu yang tepat, terutama setelah sarapan dan sebelum tidur.

Tapi tentu saja mengajak anak menyikat gigi terutama sebelum tidur bukan lah hal yang mudah. Anak yang sudah terlalu lelah atau mengantuk akan lebih mudah marah lalu menangis jika diajak menyikat gigi.

Hal ini diamini oleh Duma Riris, seorang selebriti dan Ibu dari dua orang anak. Menurutnya, menularkan kebiasaaan menyikat gigi dengan baik dan benar di waktu yang tepat pada anak itu adalah hal yang luar biasa sulit.


Seringkali Duma harus memutar otak dan mencari ide-ide yang unik dan menyenangkan tentu saja agar anak-anaknya mau rajin menyikat gigi terutama sebelum tidur. Seperti memberi mereka edukasi tentang kesehatan gigi melalui youtube sampai mengajak mereka berkaca untuk membedakan bersihnya gigi yang sudah disikat dengan baik.

Selain itu, Duma dan Judika juga berkomitmen untuk memberikan contoh yang baik secara konsisten. Mereka berharap anak-anak dapat dengan mudah meniru kebiasaan baik terutama menyikat gigi dan menjadikannya kebiasaan hingga mereka dewasa kelak.

Duma yang juga sangat mendukung gerakan ‘Yuk, #SikatGigiSekarang!’ ini juga berharap makin banyak orangtua menemukan cara-cara kreatif dan menularkan kebiasaan baik untuk melindungi kesehatan gigi dan mulut bagi keluarga mereka.

Karena itulah drg. Seno kembali menegaskan pentingnya merawat kesehatan gigi dan mulut. Beliau berpesan kepada para orangtua untuk segera mengunjungi dokter gigi jika ada masalah dengan kesehatan gigi dan mulut, bahkan juga menganjurkan masyarakat melakukan konsultasi online jika dirasa masih takut untuk keluar rumah.

Beliau juga berharap akan makin banyak dokter gigi yang ikut mengampanyekan “Senyum Sehat untuk Indonesia Sehat” agar bisa terwujud program Indonesia Bebas Karies 2030.

Webinar ini ditutup dengan pesan yang disampaikan oleh drg. Mirah yang dengan semangat mengajak orang tua untuk memulai kebiasaan sikat gigi dengan baik di waktu yang tepat dari rumah, menularkan kebiasaan baik ini pada anak-anak, dan berupaya menjaga kesehatan gigi dan mulut dengan maksimal. Beliau juga mengajak orang tua untuk ikut terlibat dalam menyebarluaskan kampanye ‘Yuk, #SikatGigiSekarang!’

Nah, bagaimana, moms?

Sudah tahu kan ya pentingnya menyikat gigi dengan baik di waktu yang tepat. Yaitu setelah sarapan dan sebelum tidur.

Jangan lupa dukung dan sukseskan gerakan ‘Yuk, #SikatGigiSekarang!’ dan ikut kampanyekan gerakan ini pada orang-orangn terdekat kita. Mari kita ikut wujudkan Indonesia Bebas Karies 2030.

‘Yuk, #SikatGigiSekarang!’ untuk Indonesia lebih sehat.



 

Stop Diskriminasi dan Berikan Kesempatan Kerja Bagi Penderita Kusta

  pic: www.radiopelitakasih.com Apa yang terlintas di benak kalian ketika mendengar kalimat “penyakit kusta”? Penyakit kutukan? Penyakit tur...