Monday, September 9, 2019

Mengatur Keuangan Keluarga dan Bisnis di Acara Visa, Ibu Berbagi Bijak


 Sebagai ibu di jaman milenial, kemampuan untuk mengatur keuangan itu rasanya sudah seperti keharusan. Apalagi dengan semakin mahalnya kebutuhan, kekonsumtifan yang semakin meningkat, dan gaya hidup yang juga terus berubah membuat kita, menteri ekonomi rumah tangga, harus makin pintar mencari celah mengakali bagaimana perputaran uang berjalan dengan normal (baca: cukup, hihihi).
Nah, demi mengakali kebutuhan yang semakin meningkat ini, banyak juga para Ibu rumah tangga yang mulai mencoba peruntungan dengan berbisnis sampingan. Entah membuka online shop, kursus keahlian, layanan jasa, dan sebagainya. Termasuk saya. Dulu sebelum menikah, saya punya online shop batik yang cukup sukses di masanya. Berhenti setelah menikah dan saat ini sedang merintis kembali. Tapi sayangnya, saya selalu menemui kendala yang sama. Belum bisa mengatur keuangan dengan baik, hiks. Rasanya semua keuntungan menguap begitu saja tapi usaha ya masih segini-segini aja, hihihi.
Nah, makanya seneng banget deh ketika kemarin VISA menyelanggarakan acara keren #IbuBerbagiBijak yang bekerja sama dengan Bank Indonesia, OJK, dan Dewan Kerajinan Sosial yang menghadirkan narasumber kece, Mbak Prita Ghozie seorang Financial Planner yang juga seorang dosen, Ibu, dan pelaku bisnis.
Acara ini juga dihadiri oleh Presiden Direktur PT. Visa Worlwide Indonesia Bp. Riko Abdurrahman; Kepala Bagian Industri Keuangan Non Bank, Pasar Modal, dan Efek Otoritas Jasa Keuangan DIY, Bp. Noor Hafid; Nakertrans Kota Yogyakarta Ibu Rihari Wulandari.
Di sini kami belajar mengenai literasi keuangan dan bagaimana mengatur keuangan untuk ibu rumah tangga dan bisnis UMKM.
Ternyata Visa Indoneisa sendiri sejak tahun 2017 sudah mulai menyelenggarakan workshop Literasi Keuangan untuk banyak Ibu-ibu di berbagai tempat. Tujuannya agar ibu-ibu ini dapat menjadi agen perubahan dan kembali menyebarkan pengetahuan mengenai literasi keuangan kepada komunitasnya. Padahal menurut sebuah penelitian, tingkat literasi keuangan perempuan itu malah lebih rendah dibanding laki-laki. Perempuan ada di angka 25%, sedangkan tingkat literasi kaum laki-laki mencapai 33,2 %. Hal ini juga yang menjadikan Visa rutin memberikan edukasi mengenai literasi keuangan pada ibu-ibu. Bahkan Ibu Rihari juga mengatakan harapannya dengan semakin meningkatnya tingkat lierasi para ibu, tingkat perekonomian pun bisa ikut meningkat.
Selain itu, Visa Indonesia juga ingin agar para pelaku usaha khususnya perempuan bisa semakin cerdas dalam mengakses produk layanan/jasa keuangan yang sesuai dengan kemampuan, serta pentingnya pemahaman akan perlindungan konsumen dalam mendukung pengembangan bisnis yang berkelanjutan.

Cashless Bersama Visa

Sempat disinggung juga oleh Bapak Riko Abdurrahman, saat ini semakin banyak masyarakat yang memiliki akses pembayaran non tunai sehingga lebih percaya diri meskipun bepergian tanpa membawa uang tunai. Karena itulah, Visa kini berkomitmen untuk menghadirkan teknologi pembayaran dan keamanan digital terbaru, seperti Visa Contacless dan Visa Token Service agar masyrakat Indonesia bisa semakin percaya diri saat bertransaksi.

77% masyarakat Indonesia memperkirakan akan semakin sering menggunakan pembayaran non tunai dalam jangka waktu 12 bulan ke depan, dan 41% meyakini bahwa Indonesia akan mewujudkan masyarakat tanpa tunai dalam kurun waktu 3 tahun.


Mengatur Keuangan Keluarga dan Bisnis Bersama Prita Ghozie


Mbak Prita Ghozie adalah seorang konsultan dan CEO dari perusahaan ZAP Finance yang juga berprofesi sebagai dosen akuntansi di UI, penulis bukuk, kolumnis, dan pelaku bisnis. Awalnya sih saya pikir bakal berat banget nih materinya, haha. Tapi Mbak Prita bisa menyampaikan materi dengan super simpel, mudah dipahami, bahkan dengan celetukan-celetukan yang sukses membuat kami tertawa bersama.
Nah, penasaran bagaimana keseruan kami belajar manajemen keuangan bersama Mbak Prita? Here we go!
Memiliki usaha boleh dilakukan siapa saja. Pemula ataupun yang sudah ahli. Ibu rumah tangga atau ibu bekerja. Tapi pastikan dulu, kita sudah mengetahui beberapa hal ini sebelum memulai usaha:
1. Apa jenis usaha yang akan kita geluti (bisa dari hobi, kemudian harus dicek siapakah nanti pangsa
pasarnya, bagaimana dengan jam kerjanya, dan lain-lain).
2. Harus mau belajar manajemen untung rugi atau akuntasi keuangan (minimal bisa memisahkan keuangan pribadi dan bisnis dan juga punya catatan seputar arus kas).
3. Memutuskan dari manakah modal kita akan berasal (modal pribadi atau bermitra). pesan Mbak Prita, jangan pernah menggunakan uang pinjaman sebagai modal awal memulai sebuah usaha.

Setelah pada akhirnya kita mulai menjalankan bisnis atau usaha, masih ada beberapa hal yang tetap harus diperhatikan. Seperti:
1. Memahami Modal dan Kebutuhan Dasar
Sebagai seorang pelaku usaha, ternyata memahamai perbedaan antara modal dan kebutuhan dasar itu super penting sekali. Modal sendiri terbagi menjadi dua yaitu modal investasi awal yang berupa properti, fasilitas pendukung, dan pelatihan tenaga kerja; dan modal kerja operasional yang berupa barang dagangan dan barang pendukung. Sementara kebutuhan dasar bisa berupa biaya tetap yang meliputi biaya operasional, pemasaran/iklan, dan pegawai.
2. Mempertimbangkan Kunci Dalam Usaha
Pertimbangan kunci di sini adalah pembiayaan dan operasional. Pembiayaan sendiri meliputi, pinjaman/dana sendiri dan perluasan usaha. Para pelaku usaha sah-sah saja melakukan pinjaman untuk memperluas atau mengembangkan usahanya. Ada tiga alternatif pendanaan yang disarankan oleh Mbak Prita. Bank, lembaga keuangan, dan Peer to Peer Lending atau pinjaman online.
Mbak Prita menekankan, dari ketiga alternatif di atas, bank adalah alternatif yang paling direkomendasikan dan pinjol adalah pinjaman yang paling tidak direkomendasikan. Jikalaupun ingin melakukan pinjaman di sini, pastikan kita memperhatikan 2L, yaitu legal dan logis. Apakah badan pinjaman online kita inilegal terdaftar di OJK dan apakah syarat dan ketentuan (bunga)nya logis dan bisa diterima akal sehat. Jangan sampai kita terjebak!
Setelah itu, kita bisa mulai fokus pada Manajemen Keuangan yang meliputi Arus Kas Usaha (Bagaimana arus kas usaha kita. Lancarkah? Bagaimana dengan modal kerja dan omset? Cukupkah juga kas untuk pembayaran pinjaman, operasional, dan pembelian barang modal), Pengukuran Sistem Keuangan yang menggunakan financial analysis bukan feeling analysis, dan Laporan Keuangan Usaha (meliputi nerasa, laporan laba rugi, dan catatan atas laporan keuangan).
Setelah semua berjalan dengan baik, saatnya kita mulai memisahkan sistem keuangan untuk usaha dan pribadi. Untuk mencapai sistem keuangan yang menurut kita ideal, Mbak Prita menekankan pada beberapa hal di bawah ini:
1. Sehatkah Keuangan saya?
Apakah kita punya hutang, seimbangkah biaya hidup, pemasukan dan prioritas, apakah sudah memiliki dana darurat, dan apakah punya tabungan atau dana investasi?
2. Arus Kas Keluarga dan Usaha
Mbak Prita menekankan pentingnya memisahkan kas untuk usaha dan kebutuhan rumah tangga agar segala kebutuhan bisa terakomodir dan jelas cashflownya.
3. Merencanakan Keuangan
Jika manajemen dan literasi keuangan kita sudah semakin baik, inilah saatnya kita menuju perencanaan keuangan untuk keperluan di bawah ini: ZAPFIN (Zakat, Assurance, Present consumption, Future spending, INvestment).

Nah, bagaimana Bu Ibu? Tercerahkan? Atau malah semakin malas memisahkan kas usaha dan rumah tangga karena harus belajar lagi? Hihihi.
Tapi, mengingat pentingnya belajar literasi keuangan demi perekonomian yang lebih baik, kayaknya sih nggak ada salahnya ya kita semakin concern dan meluangkan waktu untuk belajar lebih banyak soal manajemen dan akuntansi ini. Siapa tahu kan kita bisa punya bisnis atau usaha sesukses Mbak Prita dan bisa jadi manfaat bagi orang-orang sekitar. Aamiin 

No comments:

Post a Comment

Glam Make UP: Beauty Class Emak Blogger Solo X LT Pro (MUA Anggun Kenyo)

Beuaty Class, Mak Up Glam by Lt Pro | Pic by mak Ran Hari Minggu yang lalu saya dan teman-teman dari Emak Blogger Solo menghadiri Beau...