Tuesday, May 28, 2019

Ngobrol @tempo: Serunya Membahas Manfaat Ekonomi Fintech Lending


Ngobrol @tempo: Manfaat Ekonomi Fintech Lending


“Heh, bilangin sama teman kamu si Anu. Suruh bayar hutangnya!! Mau pinjam kok nggak mau bayar! Kalau tidak, seluruh teman-temannya akan kami teror!”


Pernah menerima SMS yang berbunyi seperti kalimat di atas? Moga-moga tidak ya. Belakangan ini banyak sekali teman-teman di jagat media sosial yang ini mengeluhkan bahwa dirinya ikut diteror hanya karena temannya meminjam uang di applikasi pinjaman online. Yang jelas-jelas membuat mereka merasa terganggu dan ketakutan karena kadang terornya pun bisa dikategorikan tidak manusiawi.

Berita mengenai pinjaman online dan cara penagihannya yang “mengerikan dan sadis” akhir-akhir ini memang sangat marak. Belum lagi soal pinjaman online yang sampai meminta korban karena bunga dan denda yang terlampau tinggi dan tidak masuk akal. Tidak hanya sekali dua kali berita ini beredar di media sosial atau pun televisi.

Lalu sebenarnya, apakah benar platform pinjaman online ini seberbahaya itu? Semenyeramkan itu? Dan apakah tidak bisa dilaporkan kepada pihak berwajib? Padahal jelas-jelas platform pinjaman online ini “menyertakan keterangan” bahwa mereka sudah berijin resmi dari OJK. 


Nah, hari Kamis lalu saya dan beberapa teman blogger ikutan dalam acara Ngobrol @ Tempo: Manfaat Ekonomi Fintech Lending bersama pakar-pakar di bidangnya termasuk juga perwakilan dari OJK. Ada Bp. Tomi Aryanto, moderator yang juga Direktur TEMPO.CO dan para pembicara yang terdiri dari Bp. Irwan Tri Nugroho (Dosen UNS), Bp. Munawar (Deputi Direktur Penelitian, Pengaturan, dan Pengembangan Fintech), Bp. Sony Ch. Joseph (CEO dan Co Founder Batumbu).
ka-ki: Bp.Tomi (moderator), Bp. Sony, Bp. Munawar, Bp. Irwan di ngobrol fintech lending @tempo

Dari merekalah akhirnya saya semakin mengerti mengenai platform pinjaman online ini, termasuk yang legal maupun non legal. Bahkan ternyata tindakan semena-mena para penagih ini bisa dilaporkan, asalkan … Yuk, kita baca lebih lanjut.

Pengertian dan Manfaat Ekonomi Fintech Lending Bagi Masyarakat

Pembicara pertama dalam diskusi kami sore itu adalah Bp. Munawar. Beliau meyampaikan apa itu Fintech Lending, status, dan bagaimana kita sebagai konsumen bisa melaporkan jika terjadi kekerasan dalam proses penagihan. Seru banget karena pemaparan beliau tu mudah banget dipahami meski sama saya yang awam soal dunia fintech lending ini.

Oke, sekarang yuk kita bahas lebih jauh apa itu Fintech (Financial Technology) Lending.
Fintech Lending atau peer to peer lending (pindar: pinjaman dalam daring) adalah pinjaman berbasis jaringan/ online yang muncul karena adanya beberapa alasan dalam masyarakat. Alasan tersebut adalah menyasar orang-orang yang tidak bisa akses ke bank secara langsung dan untuk melayani orang-orang yang underserved atau tidak bisa dilayani oleh bank karena sebab tertentu. Misalnya saja orang-orang yang membutuhkan pinjaman cair dalam jangka satu hari atau kurang.

Padahal kita tahu kan, untuk bisa mengajukan pinjaman di bank, ada banyak prosedur yang harus dilakukan dan membutuhkan waktu berhari-hari. Nah, orang-orang yang membutuhkan pinjaman dalam waktu cepat inilah yang menjadi alasan kenapa fintech lending itu hadir.
Siapun bisa ikut mendirikan platform fintech lending ini. Dengan catatan sudah mendapat persetujuan dan melewati segala proses dan persyaratan yang diberikan oleh OJK. Tujuannya agar OJK bisa mengawasi segala proses pendanaan dan ada payung hukum yang jelas jika terjadi kerugian di kemudian hari.

Fintech Lending juga hadir bukan untuk menjadi pesaing bank konvensional. Karena fintech lending hadir untuk mengisi kekosongan pelayanan yang tidak bisa disediakan oleh bank. Justru fintech lending sampai detik ini sudah banyak berkontribusi untuk perekonomian kita. Contoh kontribusi yang diberikan fintech lending: menyerap banyak tenaga kerja (sebesar 215. 433 orang), menstimulus pertumbuhan perbankan, perusahaan pembiayaan, dan ICT, meningkatkan penyaluran kredit khusushnya ke sektor UMKM, menambah GDP sebesar Rp. 25, 97 triliun, dan menambah pendapatan (Upah dan Gaji) sebesar Rp. 4,56 Triliun.
Berbeda dengan bank konvensional, di dalam fintech lending siapapun bisa ikut menjadi Lender atau pemberi pinjaman kepada Borrower atau penerima pinjaman.

Misalnya saja kita memiliki uang 10 juta dan kita ingin uang ini bisa dialokasikan di fintech lending, status kita akan menjadi Lender di sana. Serunya lagi, kita bisa ikut menanamkan modal sekaligus menentukan Borrower/UMKM yang akan kita beri pinjaman berdasarkan jenis usaha dan keuntungan yang akan kita peroleh. Nah, nanti platform fintech lending yang kita pilih akan memberikan scoring data calon borrower, yang sebagian besar adalah UMKM kecil, kemudian kita bisa menentukan siapa yang akan kita beri pinjaman modal.

Lalu apakah ada resiko bagi pemodal? Tentu saja ada. Pemodal bisa berpotensi mengalami kerugian jika borrower mangkir dalam proses pengembalian. Berbeda dengan bank konvensional di mana penanam modal dijamin keamanan keuangannya, di dalam fintech lending pemodal hanya dijamin oleh asuransi.

Karena itulah bunga di fintech lending ini lebih tinggi karena resikonya pun jauh lebih besar.
Kalimat sederhananya, fintech lending itu adalah platform yang mempertemukan orang yang punya duit dengan orang yang butuh duit dengan regulasi yang diawasi oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Untuk informasi aturan lebih lengkap, kalian bisa googling dengan keyword POJK 77/2016 ya.
Jadi si borrower bisa mendapatkan modal untuk usaha/kebutuhannya, lender juga bisa mendapatkan keuntungan dari meminjamkan uangnya.

Sebagian nama fintech lending yang legal dan terdaftar di OJK
Lalu bagaimana dengan maraknya kasus peminjam yang dikejar, diteror dan teman-temannya pun ikut diteror, bahkan sampai mengalami kekerasan fisik oleh kolektor? Kalau sudah diawasi OJK, bisakah mereka ini dilaporkan?

Nah, ternyata, sampai bulan Mei 2019 ini, fintech lending yang resmi dan terdaftar di OJK itu hanya 113 platform saja. Sisanya? Tentu saja ilegal. Dan belum lama ini, OJK berhasil memusnahkan/menon-aktifkan sekitar 947 fintech lending ilegal. Bayangkan, hampir 1000 jumlahnya. Jumlah ini mungkin akan terus bertambah karena meskipun sudah diberantas, akun-akun atau platform serupa bisa dengan mudahnya muncul kembali di era digital seperti sekarang ini.
Biasanya platform ilegal ini hanya memiliki applikasi tanpa memiliki web resmi dengan logo OJK di dalamnya. Selain itu, mereka juga memberikan bunga yang tinggi dan di awal masa audit, applikasi tersebut akan meminta ijin untuk mengakses semua data kontak di hp kita. Waspada ya kalau sudah begini.
Sebagian platform fintech lending ilegal yang dilaporkan ke OJK

Untuk fintech lending yang terdaftar dan berijin (yang resmi berijin baru ada 5 platform, sisanya sedang melewati proses evaluasi menuju ke perijinan), OJK memberi regulasi ketat mulai dari pendanaan sampai dengan proses penagihan. Kekerasan adalah salah satu yang dilarang tentunya. Karena itulah, jika kalian mengalami kekerasan baik verbal maupun nonverbal dalam proses penagihan atau penyalah gunaan data pribadi dari fintech lending yang legal dan terdaftar di OJK, kalian bisa langsung melaporkannya ke OJK atau AFPI (Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia) dengan menyertakan bukti-bukti. Ingat, ini hanya berlaku untuk fintech lending yang terdaftar di OJK ya.
Untuk mengetahui daftar platform fintech lending yang terdaftar, calon pemodal maupun borrower bisa langsung mengeceknya di web resmi OJK.  Mudah bukan?
 
source: CNBCIndonesia
Menurut aturan OJK, yang boleh diakses olef platform Fintech Lending dalam proses audit dari calon peminjam adalah camera, microphone, dan location. Selebihnya tidak diijinkan, apalagi sampai mengakses daftar kontak di hp kita.
Hati-hati jika applikasi pinjol meminta akses sampai ke kontak kita. pict: Danang Sugianti/detik finance
Nah, paham kan ya kenapa banyak sekali kasus peneroran terjadi hanya karena pinjaman online ini. Karena mudahnya proses pencairan uang, banyak orang yang tidak berfikir jernih ketika meminjam uang di platform digital ini. Bahkan jarang yang memeriksa apakah benar mereka terdaftar di OJK, apalagi hampir setiap fintech lending ilegal ini mencatut keterangan bahwa terdaftar secara legal.
 
Penting! Sebelum meminjam di fintech lending, pastikan kalian memenuhi kriteria ini
. source: ojk.go.id

“Jadi, bijaklah dalam melakukan pinjaman. Jangan pernah melakukan pinjaman untuk kepentingan konsumtif semata meski prosesnya mudahd an cepat. Ada kasus seorang nsabah terjebak di puluhan fintech lending dan akhirnya kesulitan membayar,” pesan Bp. Munawar menutup perbincangan kami.
jadi, berhat--hati dan jangan mudah tergoda ketika kalian mendapat SMS yang berbunyi “Solusi pinjaman cepat. Cair dalam waktu 3 jam. Hubungi no …” bisa jadi itu juga salah satu fintech lending yang kini makin marak hadir. 
SMS yang dengan mudahnya masuk ke HP kita


Batumbu, Salah Satu Platform Fintech Lending yang Ingin Membantu UMKM

Selanjutnya sesi bersama Bp. Sony (CEO dan Co Founder Batumbu) yang bercerita pada kami bagaimana akhirnya beliau bisa ikut terjun mendirikan Batumbu ini. Berawal dari pertemuannya dengan Ibu Ratna, peminjam yang akhirnya sukses menggunakan modal pinjamannya untuk mengembangkan usaha, Bp. Sony terinspirasi untuk mendirikan Batumbu.

Batumbu ini adalah salah satu platform fintech lending yang berkomitmen untuk membantu UMKM yang ingin berkembang bersama Batumbu. Sesuai filosofi atau arti dari Batumbu yang artinya bertumbuh (Mewujudkan aspirasi untuk tumbuh), Bp. Sony berharap pemberi dan peminjam modal bisa sama-sama bertumbuh dan berkembang memajukan usahanya.

Banyak sekalil kisah inspiratif yang disampaikan oleh Bp. Sony berkaitan dengan Batumbu dan borrowernya. Artinya, fintech lending ini jika dimanfaatkan dengan baik, benar, dan ditujukan untuk pengembangan usaha, maka akan sangat baik pula hasilnya.
Pun sebaliknya, jika fintech lending ini hanya dimanfaatkan untuk kepentingan konsumtif, tentu akan membahayakan baik borrower maupun lender.
 Selain Batumbu, kemarin ada beberapa fintech lending yang juga ikut mensosialisasikan platform mereka di acara tempo ini.  Mereka adalah AdaKita, Easycash, AdaKami, Pinjam Yuk, PinjamDuit. Platform ini adalah beberapa contoh yang legal dan terdaftar di OJK dan sedang dalam perolehan perijinan. Salah satunya adalah dengan melakukan 12 kali sosialiasi seperti yang kemarin mereka lakukan di Ngobrol @tempo yang diadakan di Solo.
Perbincangan kemudian dilanjutkan oleh Bp. Irwan Trinugroho (Akademisi UNS) yang berbincang mengenai cikal bakal fintech lending yang sudah muncul sejak bertahun-tahun lalu. Beliau juga bercerita ada kasus di mana mahasiswanya tidak membayar uang kuliah hanya demi gaya hidup mewah dan menraktir kekasihnya makanan-makanan mahal. Biasanya, tipe orang seperti ini sangat rentan terjebak pinjaman online. Karena itu, sekali lagi Bp. Irwan juga menegaskan bahwa jika kita ingin meminjam uang di platform online, pastikan fintech lending yang sudah terdaftar di OJK dan gunakan untuk tujuan positif dan bukan konsumtif.
 
Nah, itu tadi obrolan seru kami seputar Manfaat Ekonomi Fintech Lending dengan para pakar yang asyik banget. Jadi makin paham deh fintech lending itu apa, yang aman bagaimana, dan meskipun mudah prosesnya, kalau bukan untuk tujuan usaha, mending jangan pinjam sih ya. Takut jadi kebiasaan yang akhirnya merepotkan diri sendiri kan.

Untuk kalian yang berniat melakukan pinjaman di fintech lending, ingat-ingat ya pesan-pesan di atas. Dan pastikan fintech lending yang kalian tuju sudah terdaftar dan legal di OJK. Jadi, jika terjadi hal yang tidak diinginkan, kalian bisa berlindung dalam payung hukum.
Blogger ikutan Ngobrol @tempo: Manfaat Ekonomi Fintech Lending





9 comments:

  1. Ngeri banget ya, mak, kalo sampe salah pilih penyelenggara fintech lending. Apalagi yang ilegal. Wah, bisa-bisa malah buntung jadinya. :(
    Harus cermat dan banyak research dulu buat meyakinkan diri untuk terjun di dunia ini. Pastinya kita harus cari fintech lending yang terdaftar di OJK. :)

    ReplyDelete
  2. Jadi lebih tau apa itu fintech lending ya, dan harus lebih hati-hati dalam peminjaman online.

    ReplyDelete
  3. Wah bagi hasilnya tinggi tapi resiko nya tinggi juga yaa kak, buat yang berani naro uang nya disana ok banget tuh. Jangan sàmpe deh ikutan pinjol gituz ngeriii tmn kntr ku adaa yg ikutan sampe ganti no hp dia

    ReplyDelete
  4. jadi dunia fintech emang wajib dan kudu banget dipelajari deh, apalagi buat yang demen berinvestasi, hukumnya sih biasanya kalau pengen dapet hasil gede maka resikonya juga besar. siapain modal ama jantung cadangan deh

    ReplyDelete
  5. Informatif sekali pembahasannya nih kak. Jadi makin ngerti seputarqn Fintech. TFS ya kak .🙂

    ReplyDelete
  6. teknologi pinjaman online kayak gini bagus ya kak, tapi risikonya juga gede. sampe sekarang belum berani aku pake begini

    ReplyDelete
  7. Emang sih high risk high return. Ekke tp kalo aku krg berani

    ReplyDelete
  8. Hiii yg hutang 1 orang, yg diteroro bukan yg bersangkutan tapi malah teman2nya. Makanya kalau cari pinjol yg terpercaya ajah, jangan kemakan iklan yg katanya gampang proses cairnya dana ajah

    ReplyDelete
  9. jangan sampe salah pilih penyelenggara fintech lending nih aku

    ReplyDelete

Review: GO-MASSAGE, NYAMANNYA LAYANAN PIJAT PANGGILAN DENGAN TERAPIS PROFESIONAL

Layanan GO-MASSAGE pict: Gojek on google   Siapa yang suka pijat? Kalau ada yang bertanya demikian, saya pasti langsung mengangkat...