Saturday, April 20, 2019

Jangan Takut Berbagi! Karena Berbagi Tidak Akan Pernah Membuatmu Rugi


Solofunme dan saya selaku MC pentas dalam acara Ramadhan Fest bersama anak-anak dari kelas "Berbagi Ilmu" Panti Asuhan Pamardi Yoga
"Dan perumpaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang teletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu akan menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat." (QS Al Baqarah: 265)

Pernah Hidup Miskin dan Mendapat "Sedekah"

 

Tinggal di kontrakan dua petak yang sebagian dindingnya hanya bambu dengan kamar mandi di luar, menahan keinginan untuk beli sepatu atau tas seperti milik sahabat karena mahal, dan hanya diberi sangu 300.000 sebulan ketika SMA untuk membayar kontrakan dan makan, sampai hanya diberi sangu 40 ribu per minggu ketika kuliah sudah pernah saya alami.
Ya, masa kecil saya memang bisa dikatakan “miskin”. Kondisi orang tua yang berpisah dan membuat Ibu harus menjadi orang tua tunggal dan bekerja di pabrik sepatu membuat saya banyak menahan keinginan karena memang tidak mampu.
Meski demikian, saya beruntung. Beruntung karena memiliki Ibu yang bertekad mendidik anaknya sebaik mungkin hingga saya cukup berprestasi di sekolah. Rangking 1 ketika SD dan 3 besar di SMA hingga saya sering mendapat "bantuan". Beruntung karena Ibu bertekad saya sekolah di dua tempat, SD umum dan Madrasah Diniyah Awaliyah demi pendidikan agama saya. Dan beruntung karena saya juga memiliki sahabat-sahabat yang luar biasa kaya tapi baiknya, masya Allah.
Ada satu peristiwa yang masih saya ingat sampai sekarang. Waktu itu pada suatu ketika saya pergi piknik sekolah, ketika SMP kalau tidak salah ingat. Seperti biasa, saya hanya membawa sangu ala kadarnya dan makanan kecil. Demi tidak membeli makanan yang pastinya mahal sekali. Ketika di lokasi piknik, salah satu sahabat saya sejak SD dan kini pisah kelas, Venty, menghampiri saya.
Kemudian dia menyerahkan uang kepada saya. Titipan uang jajan dari Mamanya katanya. Saat itu saya yang masih kecil hanya merasa bahagia dan beruntung karena akhirnya bisa ikut “jajan” seperti teman lainnya.
Tapi kini, saya selalu merasa bersyukur setiap kali mengingatnya. Bersyukur karena dipertemukan dengan orang baik seperti sahabat -sahabat saya dan keluarganya. Yang meski kaya, mereka mau memikirkan saya yang hanya “sahabat” anaknya.
Dan itulah salah satu peristiwa yang membuat saya semangat untuk berbagi, menginspirasi saya untuk selalu memberi. Apa kabar sahabat saya? Keluarganya masih tetap kaya raya. Pun dengan dia.
Benarkan, berbagi tidak akan pernah membuatmu rugi.

Karena Berbagi Tak Akan Pernah Membuatmu Rugi

 

Membuktikan Janji Allah: Hadiah 2 juta dibalas 7 juta!!

“Barang siapa memberi pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan balasan itu untuknya dan dia akan memperoleh pahala yang banyak (QS Al Hadid: 11).
Kalian pasti pernah kan mendengar penggalan ayat suci di atas? Penggalan ayat suci yang menjelaskan tentang keuntungan dari berbagi, bersedekah, berinfaq, atau apapun kalian menyebutnya.
Pernah membuktikan sendiri? Atau pernah mendengar pengalaman teman yang membuktikan firman Allah di atas? Saya sangat sering membuktikannya.
Masya Allah, hanya itu yang bisa saya ucapkan ketika “ketagihan sedekah” membawa saya pada keajaiban-keajaiban yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.
“Loh, berbagi itu kan harus ikhlas! Nggak boleh mengharap balasan!”
Familiar dengan kalimat di atas? Saya pun demikian. Sering sekali mendengar kalimat di atas dalam percakapan sehari-hari. Benar, berbagi itu memang harus ikhlas, tanpa pamrih, bahkan ada istilah yang mengatakan sedekah yang baik itu adalah sedekah yang diam-diam. Tangan kanan memberi, tangan kiri jangan sampai tahu. Tetapi di dalam Al Qur’an, Allah SWT berfirman yang artinya “Perumpaan nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS Al Baqarah: 261).
Kembali kepada keajaiban rejeki dari ketagihan saya bersedekah tadi. Ada beberapa kisah yang saya alami sendiri yang membuat saya takjub dengan kebaikan Allah atas sedekah yang tidak seberapa tapi dibalas berpuluh kali lipat. Di bawah ini beberapa yang ingin saya ceritakan:

Kisah keajaiban Sedekah yang Pertama

“Mbak, mau beli sapunya panjangnya nggak? Bisa buat bersihin langit-langit rumah,” ucap seorang pedagang sapu pada saya siang itu, siang yang cukup terik. Si mas penjual yang saya duga berumur 30an berhenti tepat di depan rumah. Sebelah tangannya menahan puluhan sapu panjang di pundaknya. Dan  dia  berjalan kaki menjajakan barang dagangannya.
Melihatnya saya jadi iba. Langsung lah saya setuju membeli satu tanpa saya tawar. Sekitar 35.000 rupiah waktu itu. Sayangnya, saya tidak ada uang lebih sama sekali. Itu pun saya harus membayar dengan beberapa recehan demi menggenapi uang saya yang tersisa. Akhirnya, selain uang, saya berinisiatif memberikan roti bolu yang baru saya beli. Demi menutupi kekecewaan saya karena tidak memiliki uang lagi untuk diberikan.
“Rejeki itu yang penting halal kok, Mbak. Kaya ketemu Mbaknya hari ini juga rejeki,” ucapnya ketika kami sempat mengobrol panjang soal pekerjaannya. Setelah itu dia pun berpamitan dan melanjutkan jualannya.
Singkat cerita, keesokan harinya saya mendapatkan telpon dari Jakarta. Ya, hanya berselang 1 hari dari pertemuan saya dengan si Mas penjual sapu. Telpon dari salah satu editor majalah nasional. Beliau mengabarkan bawa artikel Gado-Gado yang saya kirimkan akan dimuat. Artikel yang sudah hampir setahun lalu saya kirimkan, artikel yang selalu “mental” di email dan bolak-balik saya kirim kembali, artikel yang sudah hampir saya lupakan. Artikel bernilai ratusan ribu rupiah yang saya pikir tidak akan pernah lolos dan tayang.
Tiba-tiba saya ingat si Mas penjual sapu dan merindinglah saya. Betapa janji Allah itu nyata. Kebaikan pasti akan dibalas dengan kebaikan. Saya pun sujud syukur dengan kebaikan Allah yang luar biasa ini.

Kisah keajaiban Sedekah yang Kedua

 

Hadiah untuk Ibu senilai 2 juta, dibalas Allah dengan hadiah senilai hampir 7 juta!
Keajaiban sedekah yang saya alami di bulan April ini dan tidak pernah saya duga. Cerita ini berawal dari keinginan saya membelikan Ibu sebuah gelang emas.
Beberapa bulan terakhir saya memang sengaja menabung seluruh penghasilan saya dari job-job di dunia influencer untuk hadiah Ibu. Ibu yang dulu banting tulang bekerja di pabrik dari pagi hingga malam, yang dulu pernah membawa jajanan untuk dijual dipabrik, yang dulu sering dikejar-kejar security karena karyawan tidak diijinkan berjualan meski di jam istirahat, hiks. Ibu yang hingga kini belum bisa saya bahagiakan dan masih selalu memikirkan saya dan cucunya.
Setelah uang terkumpul hingga sejumlah dua juta lebih, saya pun segera pergi ke toko emas dan mencari gelang. Sengaja saya memang tidak minta uang pada suami kbarena saya ingin hadiah ini seluruhnya dari hasil jerih payah saya sendiri. Meski sebenarnya saya membutuhkan uang untuk membeli suatu barang tapi kali ini saya sengaja mendahulukan hadiah untuk Ibu.
Tentu saja Ibu terharu dan bahagia menerimanya. Karena memang Ibu sudah tidak pernah lagi membeli perhiasan demi berhemat untuk kebutuhan kami hingga saya kuliah bahkan sampai saat ini.
Setelah itu, saya pun melupakan kejadian gelang emas ini dan bertekad untuk bekerja lebih giat demi bisa menghadiahinya ibadah ke Tanah Suci suatu saat nanti.
Sampai akhirnya kabar bahagia itu tiba. Saya memenangkan salah satu lomba Story Telling sebuah pasta gigi. Ya, saya juara 1 dari ribuan orang yang juga mendaftar dan mengikuti lomba tersebut. Lomba yang sebenarnya sudah saya lupakan karena saya tahu peserta lainnya pun sangat inspiratif.
Bahagia? Pasti! Saya memenangkan uang cash senilai 3 juta rupiah dan satu jam tangan merk ternama.

Hingga akhirnya kedua hadiah itu tiba. Uang dikirim melalui rekening dan jam tangan yang dikirim ke rumah. Dan Masya Allahnya lagi, ketika saya berusaha googling nilai dari jam tersebut, saya dan suami sampai takjub. Bagaimana bisa?
Harga jam tangan itu dibanderol sekitar 4 sampai 6 juta rupiah (bahkan ada yang 7 sampai 8 juta) di ecommerce ternama. Jadi total hadiah yang saya terima kurang lebih Rp. 7.000.000,-.
Saya tidak menyangka. Pertama karena proses pengiriman hadiah yang sangat cepat, tidak sampai satu bulan, dan nominal jam tangan yang sungguh di luar dugaan.
Lagi-lagi saya takjub dengan kedahsyatan berbagi. saya terkesima dengan skema indahnya berbagi yang dibarengi dengan keikhlasan entah di saat lapang, maupun di saat sulit.
Ya, saya tahu, berbagi, bersedekah, itu memang harus ikhlas. Tidak boleh mengharapkan balasan selain dari Allah. Tapi kita juga harus ingat janji Allah. 1 kebaikan akan dibalas 10 kebaikan.
Karena itulah jangan pernah lelah berbuat baik. Jangan pernah bosan berbagi. Jangan pernah takut akan merugi. Meski sedikit, meski di saat yang tersulit.


Bergabung Dalam Beberapa Komunitas Berbagi

 

Semenjak diracuni buku “The Miracle of Giving” yang ditulis oleh Ust. Yusuf Mansur, keinginan untuk berbagi semakin besar. Apalagi ketika di jalan berpapasan dengan pedagang/tukang becak yang sudah renta, pemulung, penjual kursi yang menggunakan sepeda, atau para pencari telur semut yang kadang tanpa sengaja berjumpa di jalan. Ada perasaan yang terusik melihat kondisi mereka. Empati yang tergugah hingga kadang membayangkan bagaimana jika saya ada di posisi mereka. Bagaimana jika itu adalah keluarga atau saudara saya, hiks.
Dari situ saya mulai berusaha menyisihkan sebagian harta demi bisa sedikit menolong mereka dan orang-orang terdekat saya yang membutuhkan. Karena saya tahu bagaimana ada di posisi mereka.
Dari kebiasaan berbagi itulah, saya sempat bercita-cita untuk memiliki komunitas berbagi. Bercita-cita ingin memiliki wadah yang bisa menjadi penyalur kebaikan bagi orang lain yang ingin bersedekah kepada sesamanya.
Solofunme Community dalam acara Pentas Seni "Sahabat Berbagi Ilmu" di Panti Asuhan Pamardi Yoga Solo

Saya dan teman-teman beserta Dokter dan perawat dari PMI Solo dalam acara Donor Darah bersama Solofunme Community

Allah memudahkan jalan saya. Sekitar tahun 2012, beberapa sahabat mengajak saya untuk mendirikan komunitas berbagi. Komunitas yang kami beri nama “Solofunme Community” dengan tagline “Sahabat Berbagi”. Bersama komunitas inilah kami bekerja sama menularkan dan menyalurkan apa yang kami mililki kepada orang-orang yang membutuhkan.
Bersama dengan Solofunme Community, saya dan beberapa sahabat rutin mengadakan baksos, kunjungan ke panti atau pesantren yatim, dan juga berbagi ilmu.
Saya dan sahabat di Solofunme Coomunity dalam acara Sahabat Berbagi Ilmu di Panti Asuhan Nur Hidayah Solo
Iya, selain berbagi materi, kami juga menularkan ilmu dalam program Sahabat Berbagi Ilmu. Berbagi ilmu pada teman-teman dan adik-adik yang mau bersinergi bersama kami. Background anggota yang beragam membuat kami memutuskan untuk menularkan ilmu yang kami miliki dengan adik-adik yang berada di panti asuhan.
 
Baksos pertama Solofunme Community bersama kaum dhuafa di Nayu, Nusukan, Surakarta
 
Saya dan para sahabat Solofunme Community dalam persiapan Sahur on The Road

Saya yang waktu itu masih menjadi penyiar radio menularkan ilmu kepenyiaran dan public speaking, teman yang model menularkan kemampuan modelingnya, dan teman-teman lain dari jurusan bahasa Inggris membuat kelas bahasa Inggris untuk anak-anak ini. Bahagia sekali ketika pada akhirnya kami berkesempatan mengajak mereka mengadakan pentas seni baik di dalam panti maupun di luar panti asuhan. Dan jauh lebih bahagianya ketika mereka masih mengenali beberapa anggota kami ketika berpapasan di jalan dan mereka menyebut “Mbaknya yang dulu berbagi ilmu di panti kan?” Masya Allah.
Kami juga pernah berkunjung ke sebuah panti jompo. Berbincang dan berkumpul bersama mereka para lansia yang jauh dari keluarga. Selain memberikan titipan donasi dari para donatur yang memang sengaja kami kumpulkan, kami juga berusaha mengisi waktu bersama mereka meski hanya dalam hitungan jam. Karena setidaknya hal ini bisa lebih mengasah empati kami.
Saya (menggendong anak) dan Bunda Lia dalam kunjungan dan penyerahan donasi ke Panti Jompo Aisyiyah (on flyer)

Saya (berjilbab motif merah) bersama sahabat di WMS dalam acara Berbagi Nasi Bungkus
Selain Solofunme Community, saya juga pernah bergabung dengan gerakan “Gerakan Berbagi Nasi Bungkus” bersama komunitas Wirausaha Muda Surakarta. Kegiatan yang kami lakukan setiap malam Jumat di jalan protokol Slamet Riyadi dan sekitarnya. Waktu itu siapapun boleh datang dan membawa nasi bungkus semampunya. Tidak ada kewajiban, tidak ada keharusan. Setelah nasi terkumpul, kami pun berjalan kaki membagikan nasi bungkus kepada pengemudi becak, pemulung, dan pedagang yang biasanya tidur di trotoar. Kegiatan yang akhirnya juga harus kandas karena terpecahnya komunitas.
Bersama teman-teman Wirausaha Muda Surakarta dalam acara Berbagi Nasi Bungkus

Saya pun bersama sahabat atau yang sering saya sebut geng Tempes, rutin mengadakan bakti sosial ketika Ramadan. Biasanya kami patungan dan juga membuka donasi bagi sahabat yang ingin menitipkan sebagian hartanya. Mulai dari pemulung, tukang becak, sampai anak-anak di panti asuhan pernah kami sambangi.
 
Gank Tempes, gank yang awalnya hanya sebatas kongkow dan hura-hura, dalam bakti sosial bersama anak-anak dari Komunitas Cinta Anak Yatim Karanganyar
 
Saya (dan anak yang merangkak) yang hampir selalu didapuk untuk menjadi MC dalam acara bakti sosial

Alhamdulillah, bersama orang-orang hebat inilah saya bisa bertemu dengan anak-anak hebat di SLB Anugerah Colomadu, pejuang-pejuang tangguh di Panti Lentera, panti yang menampung anak-anak dengan HIV Aids (ADHSA), bayi-bayi yang harus terpisah dari orangtuanya, dan juga ratusan anak-anak hebat lainnya yang harus ada di panti asuhan dengan segala kisah hidup mereka.
Saya dan beberapa sahabat di gank Tempes bersama Pak Puger -berkaos biru dongker di bekakang kiri- (founder Panti Lentera) di Panti Lentera Solo. Yayasan yang khusus menampung Anak Dengan HIV Aids (ADHSA) setelah menyerahkan donasi dari kami dan donatur

Saya, anak, sahabat, dan adik-adik hebat ketika menyampaikan donasi di SLB Anugerah Colomadu
Bertemu dengan mereka membuat saya jauh lebih bersyukur. Jauh lebih “kaya”. Jauh lebih beruntung. Dan saya yakin, materi yang saya sedekahkan tidak akan pernah sebanding dengan apa yang mereka alami. Tapi Allah SWT Maha Adil dan Maha Penyayang. Semua yang ada di dunia tidak ada yang luput dari perhatian-Nya.
Apa yang saya dapatkan? Apakah melulu dibalas dengan harta? Apakah setelah berbagi saya menjadi miskin atau rugi? TIDAK!!!
Rejeki dari Allah itu tidak melulu berupa harta, pun balasan atas sedekah dan kebaikan yang kita berikan. Lantas apa? Saya memiliki rumah yang nyaman meski tidak besar, memiliki suami dan anak yang baik, keluarga yang selalu ada dan membantu, dikelilingi orang-orang yang baiknya sering membuat saya takjub, dipertemukan dengan orang - orang yang ramah, diberi tetangga yang menyenangkan, dan diberi kesehatan. Dan satu yang terpenting, Allah masih menganugerahkan empati dan rasa ingin terus berbagi. Bahkan Allah juga memudahkan saya untuk berbagi.
Itulah sebagian kecil dari nikmat yang saya miliki. Dan bukankah itu jauh lebih berrharga dibanding harta yang malah membuat kita lupa pada-Nya?

Berbagi Kini Jadi Lebih Mudah

 

Kesibukan demi kesibukan masing-masing anggota komunitas berbagi membuat saya dan teman-teman jadi makin sulit berkumpul. Jangankan rutin mengadakan acara “Sahabat Berbagi”, berkumpul merencanakan acara pun kami sulit. Dan saya yakin, permasalahan inilah yang banyak menimpa komunitas - komunitas berbagi seperti Solofunme ini.
Lantas bagaimana? Apakah kesibukan harus menghentikan semangat kita berbagi? Apakah kesibukan harus menghentikan kita untuk memberikan senyum bagi orang lain yang membutuhkan?
“Karena ingatlah, dari setiap harta yang kita terima, ada hak dari saudara kita yang membutuhkan.”
Nah, kalian tidak perlu lagi khawatir. Karena dengan maraknya lembaga zakat, infaq, dan sedekah sangat memudahkan kita dalam hal berbagi.
Salah satunya adalah Dompet Dhuafa. Salah satu lembaga penyalur zakat dan sedekah yang berdiri sejak tahun 1993. Lembaga yang peduli pada banyak sektor umat seperti pendidikan, ekonomi, kesehatan, sosial budaya, sampai dakwah. Lembaga berbagi yang berprinsip ingin membantu kita untuk berbagi lebih mudah, bermanfaat, dan bermakna ini kini memberikan banyak kemudahan bagi kita untuk menyalurkan sedekah, infaq, dan zakat. Misalnya saja melalui:
- Kanal donasi inline di online.dompetdhuafa.org
- Transfer Bank
- Counter
- Care Visit (meninjau langsung ke lokasi program)
- Tanya jawab zakat
- Edukasi zakat
- Laporan donasi
Informasi lebih lengkap? Langsung saja klik di www.dompetdhuafa.org
Nah, bagaimana? Setelah membaca cerita saya, apakah kalian semakin takut atau semakin ingin diberi kemudahan untuk berbagi? Apalagi dengan segala fasilitas dari lembaga berbagi yang sangat mudah dijangkau oleh kita semua seperti melalui donasi.dompetdhuafa.org milik Dompet Dhuafa.
“Berbagi bersama Dompet Dhuafa, kita akan terlibat dalam mengentas kemiskinan dan upaya membangun Indonesia untuk lebih maju. Apa yang telah kita berikan bukan hanya sekedar menuntaskan kewajiban, tapi memberikan makna tersendiri bagi mereka yang membutuhkan (Dompet Dhuafa).”
Semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi teman-teman untuk berbagi. Bisa memacu semangat untuk makin semangat berbagi di manapun dan kapanpun. Baik berbagi rejeki maupun berbagi dengan sikap dan kebaikan.
Yuk, kita berlomba-lomba dalam kebaikan. Karena ingatlah, jangan pernah lelah berbuat baik. Jangan pernah bosan berbagi. Jangan pernah takut akan merugi. Meski sedikit, meski di saat sempit yang tersulit. Karena kita tidak akan pernah tahu kebaikan mana yang membuat doa kita dikabulkan. Kebaikan mana yang akan langsung diganjar 10 kali lipat. Dan jika tidak di sini, pasti di akhirat nanti.


“Tulisan ini diikut sertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagi yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa”

Seru dan Kocaknya Film Mahasiswi Baru; Film Keluarga yang Super Menghibur

Mahasiswi Baru, tayang 8 Agustus 2019 “Emang lahir tahun berapa?!” “70 tahun lalu …” “Waduh …” -Mahasiswi Baru- Setuju ngg...