Thursday, March 29, 2018

Dompet Dhuafa Bersinergi dengan Sasakawa Peace Foundation Untuk Kelangsungan Taman Gesang di Solo Zoo


Dompet Dhuafa, Solo Zoo, Sasakawa Peace Foundation, dan Bloger Solo di depan pintu masuk Taman Gesang
Sabtu yang lalu saya dan teman-teman Bloger Solo diundang untuk meliput acara Dompet Dhuafa yang diadakan di Taman Satwa Taru Jurug atau yang sekarang dikenal dengan nama Solo Zoo. Sesampainya di lokasi saya disambut dengan spanduk besar dari Dompet Dhuafa dan ucapan selamat datang untuk Sasakawa Peace Foundation.
Yup, acara kali ini memang berhubungan dengan salah satu yayasan amal (NGO) dari Jepang dan Taman Gesang yang ada di Solo Zoo.
Setelah menunggu beberapa saat, tamu yang ditunggu pun tiba. Disambut oleh koor lagu kebangsaan dan lagu tradisional yang dinyanyikan oleh adik-adik dari beberapa lembaga PAUD di Solo, para tamu memasuki gerbang.
Suasana sangat meriah. Bendera Indonesia dan Jepang dikibarkan dengan penuh semangat oleh adik-adik tadi. Setelah itu, dilanjutkan dengan foto bersama.
SPF berpose bersama anak-anak PAUD yang menyambut mereka

Tamu-tamu kehormatan pagi itu adalah tim dari Sasakawa Peace Foundation dari Jepang. Mereka adalah Mr. Kazuhiko Tada (Director of SPF), Miss Mariko Hayashi (Program Officer of spf), dan Miss Akiko Horiba (Program Director of SPF).
Sasakawa Peace Foundation adalah salah satu yayasan nirlaba/non profit yang berlokasi di Jepang dan mempunyai misi untuk ikut mencitpakan kerukunan, kesejahteraan, dan perdamaian dunia. Yayasan yang diresmikan pada 1 September 1986 sangat concern pada isu-isu sosial pada masyarakat global dan menjadi salah satu badan amal yang telah banyak berkontribusi pada kedamaian dunia. Kontribusinya sudah tersebar di berbagai tempat sebut saja Myanmar, Suriah, Kamboja, Indonesia, dll.
Bermula dari undangan dan kunjungan Tim Dompet Dhuafa ke Sasakawa Peace Foundation di Jepang, akhirnya munculah sinergi antar kedua yayasan non profit ini dan berlanjut kepada kunjungan SPF ke Solo dan Yogyakarta.
Acara kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi beberapa lokasi di Solo Zoo, salah satunya adalah shelter kios yang dibangun oleh Dompet Dhuafa/DD. 25 shelter ini sebagian besar sudah dihuni oleh berbagai UMKM yang menawarkan berbagai jenis barang dagangan dan makanan. Shelter ini dibangun oleh DD bertujuan untuk mendukung pemerintah di bidang ekonomi dan meningkatkan taraf hidup masyarakat kota Solo dan sekitarnya.
Shelter yang dibangun oleh Dompet Dhuafa di Solo Zoo

Selama ini saya pikir, Dompet Dhuafa adalah lembaga yang hanya melulu berkontribusi di bidang ZISWAF semata. Tapi ternyata jauh lebih dari itu. Dompet Dhuafa juga memiliki perhatian yang sangat serius pada pemberdayaan UMKM, budaya, dan sudah sering melakukan kerja sama dengan berbagai pihak.
Kerja sama inilah yang saat ini sedang diupayakan dengan SPF demi kemakmuran dan kemajuan Solo Zoo pada umumnya dan Taman Gesang pada khususnya.
Perjalanan kami lanjutkan ke Taman Gesang. Setelah melihat kondisi sekitar, diskusi singkat antara pihak Pemkot Solo, Manajemen Solo Zoo, Manajemen Dompet Dhuafa Jogja, dan Bloger pun dimulai. Pertanyaan demi pertanyaan timbul. Terutama mengenai kelanjutan kerja sama antara SPF dengan Taman Gesang.
“Kedatangan kami kesini adalah untuk survei. Seperti apa kondisi Taman Gesang. Baru nanti akan diputuskan bagaimana ke depan. Tapi ide-ide untuk Taman Gesang sudah banyak. Di sini dibuat seperti ini, dibangun seeprti itu, dan sebagainya,” begitu kata Miss Akiko dengan bahasa Indonesia yang cukup lancar. Beliau memang sudah pernah stay selama 5 tahun di Indonesia dan cukup sering berkunjung ke Solo.
Begitu pun dengan Mr. Tada, beliau juga mengungkapkan sudah banyak sekali ide yang terlintas untuk perkembangan Taman Gesang. Mr. Tada juga berharap antara Kota Solo dan kota Tono tempat kelahirannya bisa terjalin semacam sister city. Apalagi kedua kota ini memiliki kemiripan baik dari segi kondisi budaya serta lingkungan. Ke depannya, beliau berharap Solo Zoo dan Taman Gesang dapat menjadi salah satu sarana untuk membangun masa depan anak-anak dan generasi muda.

Sesi diskusi di Taman Gesang
Taman inilah yang diharapkan bisa mendapat bantuan dan perhatian dari SPF agar dapat kembali hidup dan dinikmati oleh banyak orang, terutama penggemar (alm) Gesang.

Taman Gesang di Solo Zoo

Seperti yang kita ketahui bersama, Gesang yang memiliki nama lengkap Gesang Martohartono adalah salah satu sosok penting di Indonesia dan dunia. Beliau adalah master keroncong yang sangat terkenal, khususnya di Indonesia dan Asia terutama Jepang. Lagu-lagunya juga sudah diterjemahkan ke dalam kurang lebih 13 bahasa, di antaranya adalah bahasa bahasa Inggris, bahasa Rusia, bahasa Tionghoa, dan bahasa Jepang.

Patung Gesang dan not balok lagu Bengawan Solo
Bagi warga Jepang, sosok Gesang juga sangat fenomenal. Lagunya yang berjudul “Bengawan Solo” sangat digemari di sana. Bahkan lagu ini juga sempat digunakan sebagai soundtrack salah satu film di sana.
Tidak berhenti sampai di situ, kecintaan warga Jepang juga diwujudkan dalam donasi untuk pembangunana Taman Jepang di Solo Zoo ini. Taman Gesang adalah monumen yang didirikan dengan bantuan dana dari komunitas pecinta keroncong di Jepang pada tahun 1983 dan diresmikan pada 1 Oktober 1991. Monumen ini memiliki fasilitas lengkap mulai dari gapura, jembatan, panggung keroncong, tribun penonton, aula, dan patung sang Maestro.
Sayangnya, monumen ini sudah tidak terurus dan bisa dibilang mangkrak. Bangunan-bangunannya sudah mulai hancur. Hanya tersisa tiang-tiang penyangga, jembatan, dan tribun penonton. Patung sang maestro dan monumen lagunya pun sudah mulai ditutupi lumut. Hanya ada satu dua pengunjung yang datang. Itu pun mereka hanya mendatangi pesawat latih TNI AU yang sudah beberapa tahun ini ditempatkan di dalam Taman Gesang.
Kondisi inilah yang menjadi salah satu keprihatinan Dompet Dhuafa, hingga akhirnya bersinergi dengan SPF. Bagaimana tidak, monumen ini adalah salah satu pengingat betapa besar dan hebatnya maestro kita di mata dunia. Sayang jika akhirnya monumen ini harus hancur dan kemudian hilang.
Kondisi Taman Gesang kini


Ini bukan kali pertama Dompet Dhuafa mengadakan kunjungan dan acara di TST Jurug atau Solo Zoo. Program ini sebenarnya sudah direncanakan sejak 1,5 tahun yang lalu. Setelah melalui berbagai kendala, akhirnya SPF bisa melihat langsung kondisi Taman Gesang saat ini.
Bapak Yudha Abadi, Direktur Pengembangan dan jaringan Corporate Secretary Dompet Dhuafa, menjelaskan dengan menggunakan pendekatan budaya, beliau berharap bisa terwujud sinergi yang baik dan berkelanjutan sehingga ada kerja sama yang baik antara Kota Tono dan Kota Solo pada khususnya.
Beliau mengatakan dengan kunjungan SPF ini diharapkan dapat lebih cepat menghidupkan kembali Taman Gesang. Beliau juga berharap agar SPF dapat memberikan kontribusi untuk merenovasi atau merestorasi Taman Gesang sehingga kembali layak dikunjungi. “Ini adalah bentuk inisiasi Dompet Dhuafa dalam membantu persaudaraan kedua negara,” pungkas beliau.
“Bengawan Solo dan Taman Gesang bukan hanya untuk hari ini. Tapi juga untuk anak cucu kita nanti”.


Dompet Dhuafa

Dompet Dhuafa adalah yayasan nirlaba yang didirikan pada tanggal 4 September 1994. Bermula dari keterkejutan akan honor para pendidik di CPD, Pimred Republika pada masa itu, Bp. Parni Hadi, akhirnya bertekad melakukan sesuatu dan terinspirasi oleh kisah itu, akhirnya terciptalah Dompet Dhuafa Republika.
Jadi, Dompet Dhuafa lahir berawal dari empati para jurnalis yang waktu itu sering berinteraksi secara langsung dengan orang miskin. Awalnya, penggalangan dana hanya dilakukan di kalangan wartawan. Setelah dirasa kurang maksimal, akhirnya Dompet Dhuafa semakin dikembangkan dan mulai menjaring dana dari siapapun yang ingin menitipkan sebagian rejekinya untuk mereka yang kurang mampu.
Dompet Dhuafa adalah lembaga nirlaba yang memiliki visi dan misi ingin mengangkat harkat sosial kemanusiaan kaum dhuafa dengan dana zakat, infaq, sedekah, wakaf, serta dana lain yang halal/legal.
Bantuan yang disediakan oleh yayasan ini sendiri meliputi bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan pengembangan sosial.
Bahkan tidak hanya di Indonesia, Dompet Dhuafa juga melebarkan sayap untuk membantu kaum dhuafa yang ada di negara lain. Untuk itulah, Dompet Dhuafa atau DD juga membuka kantor cabang di beberapa negara lain seperti Amerika, Jepang, Hongkong, Korea Selatan, dan Australia. Hal ini tentu saja memudahkan siapa pun yang ingin ikut berdonasi tanpa memandang suku, ras, agama, dan negara.
Kini, dengan adanya perda baru DD juga makin terbuka sola penerimaan donasi. DD bisa menerima hibah, CSR, dan bantuan dana dari pihak pemerintah demi tujuan konservasi edukasi.
Berkat kepercayaan masyarakat, Dompet Dhuafa juga berhasil meraih penghargaan Indonesia Middle-Class Brand Champion pada tahun 2015 untuk kategori lembaga amal, zakat, infak, dan sedekah nasional dari SWA Inventure.
Berminat untuk berdonasi? Bisa langsung mengakses web DD di www.dompetdhuafa.org. Bingung menentukan besaran zakat yang harus dikeluarkan? Jangan khawatir, web Dompet Dhuafa ini memang dirancang untuk memudahkan para donatur untuk menyalurkan donasinya. Selain informasi mengenai kegiatan DD, web ini juga dilengkapi dengan Kalkulator Zakat, di mana kita bisa menghitung sendiri besaran zakat yang harus dikeluarkan sesuai dengan kaidah fikih.
Selain itu, DD juga berusaha memudahkan para donatur dengan menyediakan berbagai layanan seperti channel pembayaran elektronik, pembayaran zakat via ATM, dan juga layanan jemput zakat.
Dompet Dhuafa memang berkomitmen untuk menjembatani kebutuhan para donatur dalam menunaikan kewajiban dan keinginan untuk memuliakan sesama.

Saturday, March 10, 2018

Ayam Geprek Mbah So, Level Pedas Sak Karepmu


Bloger Solo w/ Bp. Sugianto, Ibu Sylvia, dan Kanjeng Mami Sari



Sabtu sore yang lalu saya dan teman-teman diundang Kak Maya untuk berkunjung ke gerai Ayam Geprek Mbah So di Banjarsari. Setelah kebablasan even sudah pakai gmaps, sampailah kami di Rumah Banjarsari. Bayangpun, udah dipandu sedemikian rupa sama si Mbak disuruh turn right, eh saya lurus, hihi. Ya nyasar lah.
Awalnya sih saya bingung, karena lokasinya ini semacam rumah tua dengan pagar tembok putih tinggi. Saya pikir nyasar lagi dong. Tapi ternyata ada beberapa papan nama yang menunjukkan kalau memang ini lokasi Rumah Banjarsari. Dan untung lah, muka-muka familiar milik Kak May, Bang Yosh, Mpok Ipeh, Mak Cin langsung menyambut saya dengan senyum ramah mereka (oke, ini lebay hihi. Mereka nggak ramah sih soalnya, hoho).

Ayam Geprek Mbah So

As we know, ayam geprek jadi salah satu kulliner baru yang sangat digandrungi banyak masyarakat. Banyak pelaku bisnis kuliner memanfaatkan peluang ini untuk membuka gerai ayam geprek di kota Solo. Salah satunya Ayam Geprek Mbah So.
Terletak di gerai paling ujung, Ayam Geprek Mbah So berada di satu tempat dengan Wedangan Mbah Romo. Karena memang satu pemilik.
Jejeran kantin ini konsepnya lebih ke garden resto sih menurut saya. Sejuk dan segar banget suasananya di Rumah Seni Banjarsari ini. Cocok dijadikan tempat untuk berkumpul bersama keluarga atau sahabat.

Nama Mbah So ini sendiri unik dan menyentuh sekali. Menurut Bapak Sugianto dan Ibu Sylvia Kunti, owner dari Ayam Geprek Mbah So, mereka memilih memakai nama Mbah So sebagai bentuk penghormatan kepada alm. bapak mereka.  So touching!

Usaha ini merupakan usaha kuliner ketiga milik Bapak Sugianto yang sejak kuliah dikenal dengan sebutan Mbah Rowo ini.
Kecintaannya akan menu lokal dan keinginannya untuk melestarikan menu lokal lah yang membuat beliau bersemangat membuka dan berinovasi dengan menu baru. Karena itulah di bulan September 2017 lalu, Ayam Geprek Mbah So resmi dibuka.
Tanpa menunggu lama, kami langsung sibuk memilih menu makan, minum, dan camilan yang  ada.
Saya sendiri memilih Ayam Geprek Sambal Matah, Wedang Jahe, dan Carang Gesing. Karena memang satu pemilik, jadi ada menu wedangan dan menu geprek yang bisa kita pilih di sini.
Tak lama, kami disuguhi segelas teh hangat. Padahal kita sudah request minuman masing-masing, loh. Menyenangkan sekali kan!
Tapi seneng banget sih. Karena ternyata teh hangatnya ini enak banget. Pahit, kental, manisnya pas. Sama seperti teh racikan ibu mertua. Beneran, I am a big fans of tea and iced tea. Dan buat saya, warung makan/resto itu bisa dibilang oke banget kalo es tehnya juga enak, hehe.
Salah satu menu wedang andalan di sini adalah JKJ, jahe, kencur, jeruk. Lengkap dengan gua batu dan serehnya. Wanginya memang segar banget.
JKJ, Jahe Kencur Jeruk ala Wedangan Mbah Rowo
Carang gesingnya juga enak, meski terlalu manis untuk lidah saya. Benar-benar murni pisang, telur, dan santan.

Varian Ayam Geprek

Berbeda dengan ayam geprek kebanyakan yang hanya menyediakan satu atau dua varian, Ayam Geprek Mbah So menghadirkan 5 varian ayam geprek dan akan menambah varian lain.
Apa sih spesialnya Ayam Geprek Mbah So dibanding ayam geprek yang lain?
Menurut sang juru masak, Ibu Sari atau yang akrab dipanggil Kanjeng Mami Sari, mereka benar-benar menyajikan kualitas. Selain pemillihan dan penggunaan fillet daging ayam yang segar dan dimarinasi dengan bumbu pilihan, Kanjeng Mami juga tidak mau menggunakan tepung bumbu yang dijual di pasaran. Tepung yang dipakai adalah kombinasi tepung terigu dan tepung beras yang kemudian dicampur dengan bumbu rahasia. Itulah kenapa kualitas rasa di Ayam Geprek Mbah So benar-benar terjaga.
Ternyata si ibu ini adalah juru masak kepercayaan Bapak Sugianto yang sama-sama alumni dari SD Kristen Manahan. Bahkan pengelola dari Ayam Geprek ini rupanya teman-teman alumni di SD yang sama.
Dari beberapa usaha kuliner yang dimilikinya, Kanjeng Mami Sari lah yang bertanggung jawab sebagai juru masaknya. Mulai dari pemilihan bahan, proses belanja, sampai penentuan dan takaran resep harus berdasar persetujuan Kanjeng Mami.
Bahkan proses memasak ayam geprek yang kami nikmati kemarin ini juga dibantu oleh salah satu putranya Kanjeng Mami loh.

1.      Ayam Geprek Original
Ayam geprek tanpa sambal. Aman lah ya untuk menu anak-anak. Apalagi setiap menu ayamnya ditambah dengan telur dadar sebagai toping.
2.      Ayam Geprek Sambal Bawang

“Mau seberapa pedas, Mbak Mas? Cabai 5, 10?”

Pecinta pedas?? Bisa banget request tingkat kepedasan loh, peeps. Kemarin saat memesan kami juga ditanya mau reequest berapa cabai. Bang Yosh request 10 cabai untuk ayam gepreknya. Bahkan katanya ada yang request sampai 20 cabai. Kebayang kan pedasnya kaya apa, hihihi.
Karena itulah, tagline “Level Pedas Sak Karepmu” memang pantas disematkan oleh Ayam Geprek Mbah So ini.
3.      Ayam Geprek Sambal Matah
Baru kali ini saya menemukan ayam geprek dengan pilihan beragam seperti ini. Jadilah saya memilih menu sambal matah karena memang saya suka. Tapi sayang sih, sambalnya kurang pedas untuk saya. Menu ini aman untuk kalian yang tidak terlalu suka pedas. Jadilah saya request sambal bawang tambahan ke Kanjeng Mami, hihi.
4.      Ayam Geprek Lada Hitam
     

Perpaduan bumbu lada hitam dan gurihnya ayam geprek bikin menu ini jadi semacam menu ala ala western gitu, peeps.
5.      Ayam Geprek Saus Asam Manis
Perpaduan rasa asam dan manisnyan juga pas. Dan yes, saya tetap request sambal bawang biar ada cita rasa pedasnya  dong ya, hehe. Menu ini juga hampir mirip dengan salah satu menu di gerai fast food kenamaan. Enak deh pokoknya
Kemarin karena memang ini menu baru dan belum tertera di daftar menu, jadilah kami tidak ada yang mencoba di tempat. Jadi, saat Bu Sylvia menawarkan untuk dibawa pulang, saya antusias memesan menu ini dong ya.
 
Tadi soal rasa. Lalu bagaimana soal harga? Tenang, peeps. Dengan segala kualitas dan level pedas yang sedemikian rupa tadi, harga untuk setiap porsi ayam geprek sangat terjangkau kok. Hanya berkisar antara 15K - 17K. Sudah lengkap dengan nasi, ayam geprek, sambal, dan telurnya. Untuk minuman juga sangat terjangkau. Mulai dari 3K untuk segelas teh panasnya dan 7K untuk JKJ. Terjangkau dan memuaskan deh.

Rumah Seni Banjarsari

Kalian suka seni, rumah klasik, dan tempat kongkow yang asik?
Wajib lah coba datang kesini. 
Suasananya memang homey. Dengan banyak pohon-pohon rindang. Bahkan menurut Ibu Sylvia, ada salah satu lahan yang dijadikan lahan apotek hidup juga loh.
Rumah Seni Banjarsari ini adalah awalnya hanya rumah kosong tak terurus. Akhirnya, setelah mendapatkan ijin, jadilah rumah ini dijadikan sebagai ruang terbuka wadah seni, budaya, dan kreasi yang diharapkan bisa menjadi salah satu pusat kebudayaan di kota Solo. Siapapun boleh datang dan menggunakannya.
Menurut cerita Bapak Sugianto dan Bu Sylvia, ada banyak sekali acara dan pertunjukan seni yang sudah pernah diselenggarakan di sini. Sebut saja bedah buku, musikalisasi karya,  pertunjukan teater, workshop melukis, pentas tari, dan lain-lain.
Jika kalian ingin mengadakan acara di sini, nggak usah bingung dengan urusan konsumsi. Selain ayam geprek, Bu Sylvia juga menyediakan menu sesuai pesanan/permintaan dengan budget berapapun. Bisa untuk ulang tahun, arisan, meeting, atau hanya sekedar syukuran. Bahkan menurut ceritanya, belum lama ada rombongan orang Jepang yang mengadakan acara di Rumah Seni Banjar memesan menu sayur asam, lele, dan sambal kepada beliau.
Oh iya, lokasi Rumah Seni Banjarsari ini dekat dengan taman bermain Monumen 45 Banjarsari. Banyak sekali fasililtas bermain untuk anak-anak yang disediakan. Bahkan suami dan anak saya juga memilih untuk menunggu saya di sini.
Seru kan? Tunggu apa lagi. Langsung ajak keluarga atau sahabat ke Ayam Geprek Mbah So, yuk.

Review: GO-MASSAGE, NYAMANNYA LAYANAN PIJAT PANGGILAN DENGAN TERAPIS PROFESIONAL

Layanan GO-MASSAGE pict: Gojek on google   Siapa yang suka pijat? Kalau ada yang bertanya demikian, saya pasti langsung mengangkat...