![]() |
Triana Rachmawati, penerima Apresiasi SATU Indonesia Award 2017 |
“Mbak iku wong edan. Ra sah digubris!” (Mbak itu orang gila. Nggak usah digubris!")
Sore hampir beranjak senja. Kala menunggu pesanan makanan untuk berbuka puasa di sebuah
angkringan, Triana tertohok dengan sepenggal kalimat yang sambil lalu diucapkan
oleh ibu penjual angkringan.
Waktu itu Triana mendengar azan magrib berkumandang dari
seorang laki-laki di dekatnya. Azan yang selalu ditunggu sebagai penanda dicukupkannya segala dahaga dengan berbuka. Dia yang heran bertanya pada ibu angkringan apakah
benar sudah memasuki waktu magrib, lalu meluncurlah kalimat yang mungkin
diucapkan tanpa berniat men-judge atau menyingkirkan siapapun tapi berhasil mengusik
hati nurani Triana sejak saat itu.
“Dia manusia tapi lupa dimanusiakan. Dia masyarakat tapi
nggak digubris sama masyarakat. Apa ya yang bisa aku lakukan untuk mereka? “ pikirnya.
Sejak saat itu Triana yang merupakan lulusan Sosiologi dari
Universitas Sebelas Surakarta ini mulai tergerak untuk mengunjungi panti-panti
di sekitarnya, termasuk Griya PMI Peduli yangn merupakan bentuk kepedulian PMI
kepada para ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) baik yang terlantar maupun dititipkan.
Griya PMI Peduli juga lah yang pertama kali menyambut baik ide dibentuknya
Griya Schizofren oleh Triana.
Memanusiakan Manusia Bersama Griya Schizofren, Mengantarkan Triana Pada Anugerah SATU Indonesia Award
Dampak dari keresahannya hari itu membuat Trian berfikir
keras, apa yang bisa dia lakukan untuk mereka, apa yang bisa dia lakukan agar masyarakat
mau memanusiakan mereka yang memang manusia dan mau menerima mereka sebagai
bagian dari masyarakat itu sendiri.
Akhirnya, Triana menemukan ide mendirikan Griya Schizofren
pada 10 Okt0ber 2012 bersama beberapa teman mahasiswanya.
Griya sendiri berarti rumah. Sedangkan Sc singkatan dari
Social yang berarti komunitas sosial, Hi-Humanity yang berarti dibangun atas dasar
kemanusiaan, dan Fren-Friendly yang berarti membangun persahabatan.
Griya Schizofren dibangun sebagai komunitas kemanusiaan
yang bisa menjadi teman para ODMK (Orang
Dengan Masalah Kejiwaan) dan sebagai sarana bagi banyak orang agar lebih peduli
pada kesehatan mental dan juga kesehatan mental orang lain.
Dan sesuai dengan visi misinya, sampai hari ini Griya
Schizofren yang pada mulanya hanya beranggotakan 3 pendirinya yaitu Tria,
Wulan, dan Febri setia mendampingi dan mengisi ruang kesendirian para OMDK.
“Jadi yang kami lakukan itu sederhana tapi seringkali
dilupakan oleh orang lain. Kami menemani mereka melukis, menggambar, bercerita,
dan mendengarkan cerita mereka. Tidak lupa kami juga mengapresiasi segala hal sederhana
yang bisa mereka lakukan hari itu.” ucap Triana dengan wajah berbinar.
![]() |
Art therapy untuk ODMK dan ODGJ bersama Griya Schizofren | dok: Triana |
Siang itu, bertempat di Multifunction Hall Radya Litera
Griya Solopos, Triana bercerita banyak tentang semangatnya memanusiakan manusia
bersama Griya Schizofren dan bagaimana keresahannya yang bermula dari komentar
tentang ODGJ membawanya menerima Apresiasi SATU Indonesia Award di bidang
kesehatan pada tahun 2017.
Apresiasi SATU Indonesia Award adalah program yang memberikan
apresiasi kepada generasi muda atau daerah yang memiliki prestasi dan kontribusi
positif untuk masyarakat dan lingkungannya. Apresiasi SATU Indonesia merupakan
bagian dari CSR (Corporate Social Responsibilty) dari PT Astra International
sejak tahun 2010.
Ada beberapa kategori penerima apresiasi SATU Indonesia
Award ini seperti bidang Lingkungan, Pendidikan, Teknologi tepat guna/Pemanfaatan
Teknologi, dan Kewirausahaan/UMKM.
Hal yang tidak pernah terlintas dalam benak Triana, bahkan
terfikirkan untuk mendaftar pun tidak.
Tapi benar seperti pepatah mengatakan, “Siapa menabur pasti
akan menuai”, segala niat baik dan totalitas Triana memberikan dampak baik pada
ODMK dan ODGJ membawa Triana menuai Apresiasi SATU Indonesia Award dan pada
akhirnya memberikan Triana semangat untuk terus bergerak dan terus memberikan
dampak pada sesama.
Satukan Gerak, Terus Berdampak Dengan Berkolaborasi
“Perlakukan orang lain sebagaimana kalian ingin diperlakukan,”
tegas Triana ketika banyak orang lain yang bertanya bagaimana seharusnya bersikap
ketika bertemu dengan ODGJ atau ODMK.
Salah satu cara terbaik untuk memanusiakan manusia adalah
memperlakukan sebagaimana kita ingin diperlakukan. Jika kalian ingin
diperlakukan dengan baik, maka perlakukan mereka dengan baik juga.
Karena itulah alih-alih menganggap mereka sebagai pasien,
Triana dan Griya Schizofren lebih memilih memvalidasi perasaan mereka. Triana
juga tidak lupa untuk terus mengapresiasi para ODMK dan ODGJ karena sejatinya
mereka adalah manusia yang sama, dengan segala kelebihan dan sedikit
kekurangannya.
Namun bukan tanpa hambatan, perjalanan Triana untuk bisa
terus bergerak dan meberikan dampak baik ini pernah menemui kendala terutama di
masalah dana. Bahkan Triana pernah memilih untuk menyerah dan menutup Griya Schizofren
karena kehabisan dana. Apalagi saat itu Griya Schizofren belum terlalu dikenal
luas, sehingga belum banyak juga orang yang bisa ikut berkontribusi pada
perjalanan Griya Schizofren.
Keputusan Triana ini bermuara pada didaftarkannya Triana dan
perjuangannya di Griya Schizofren di ajang SATU Indonesia Award oleh
orang-orang terdekatnya. Dan keberhasilannya terpilih menjadi pemenang pada Apresiasi
SATU Indonesia Award inilah yang akhirnya kembali mengobarkan tekadnya untuk
terus bergerak dan memberikan dampak.
“ASTRA aja percaya kita mampu, masa kita nggak percaya kalau
kita mampu” ujarnya ketika pada akhirnya Triana kembali bergerak dan berjuang
bersama Griya Schizofren.
Dengan bermodal seluruh hadiah yang diterimanya, Triana kembali
berjuang bersama Griya Schizofren untuk menjadi teman berbagi dan bahagia para ODMK
dan ODGJ.
Hingga pada akhirnya, perjalanan ini memberikan ide baru
bagi Triana untuk memberdayakan ODMK melalui Solvenesia.
Solvenesia merupakan ruang bagi para penyintas ODMK dan ODGJ
untuk tumbuh dan berkarya. Solvenesia juga perwujudan hasil kreatifitas yang
luar biasa dari para ODMK dan ODGJ. Kemampuan mereka yang luar biasa pada art
therapy akhirnya direcreate ke dalam bentuk digital yang akhirnya diperjual
belikan dalam bentuk souvenir seperti
tumbler, bantal, dompet, tote bag, buku, mug, dll.
![]() |
Beberapa hasil karya Art therapy teman-teman ODGJ yang menjadi souvenir |
Terapi seni atau art therapy yang selama ini dilakukan oleh
Griya Schizofren dijadikan produk bernilai Terapi, Edukasi, dan Ekonomi . Hasil
dari kreatifitas para ODMK dan ODGJ ini diupayakan dapat menjadi wadah edukasi
bagi masyarakat bahwa ODMK dan ODGJ bisa berdaya melalui souvenir dan menjadi
media komunikasi. Yang akhirnya dikonversi ke dalam bentuk ekonomi di mana hasil
penjualan dari souvenir ini disalurkan kepada para ODMK dan ODGJ sebagai upaya
peningkatan ekonomi dan kesejahteraan hidup mereka.
Bahkan hasil dari penjualan souvenir ini juga bisa memberikan
dampak nyata bagi para ODGJ di Griya PMI Peduli pada bidang kesehatan, sosial,
dan kesejahteraan.
Griya Schizofren dan Solvenesia juga makin dikenal luas. Bahkan
saat ini semakin banyak orang ikut berkontribusi dan semakin banyak pihak yang
ikut berkolaborasi seperti Astra Internasional.
Dan yang membuat Triana semakin bangga bisa menjadi bagian
dari penerima Apresiasi SATU Indonesia Award adalah selain Griya Schizofren
yang semakin dikenal luas, Triana juga masih terus mendapatkan pendampingan dan
dukungan dari PT Astra Internasinal dan SATU Indonesia Award.
“Ternyata kalau kita kolaborasi dengan orang banyak, menyatukan
gerak dengan kemampuan masing-masing
baik dengan tulisannya, dengan fotonya, dengan beritanya, kita bisa memberikan dampak dan akan bisa
sampai pada satu titik di mana kita bisa hidup berdampingan dengan ODMK dan
ODGJ tanpa harus ada stigma atau perbedaan."
Menurut Triana semakin banyak masyarakat yang mau ikut
bertanggung jawab pada masalah kejiwaan/mental health di negeri ini dengan
peranannya masing-masing , maka masalah kejiwaan akan bisa direduksi/diturunkan.
Karena itulah besar harapan Triana agar semua pihak mau bersama-sama bergerak
untuk memberikan dampak nyata bagi sesama.
Semoga apa yang menjadi harapan Triana bisa benar-benar
terwujud. Semoga tidak ada lagi stigma negatif kepada para ODMK dan ODGJ,
semoga kita bisa sama-sama berkolaborasi dan menyatukan gerak untuk
memanusiakan manusia dan memasyarakatkan seluruh masyarakat.
Tidak ada komentar